Hadapi Musim Kemarau, Pemkab Sumbawa Perkuat Bantuan Air dan Pendampingan Petani
Sumbawa Besar (NTBSatu) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumbawa memperkuat langkah antisipasi menghadapi musim tanam kemarau tahun 2026. Upaya ini bertujuan menekan potensi gagal panen akibat keterbatasan air.
Kepala Dinas Pertanian Sumbawa, Ni Wayan Rusmawati mengatakan, tantangan utama pada musim kemarau adalah ketersediaan air yang semakin terbatas. Karena itu, petani perlu lebih cermat menentukan pola tanam.
“Memasuki musim tanam kemarau tahun ini, petani perlu menyesuaikan pola tanam dengan kondisi air di masing-masing wilayahnya,” ujarnya kepada NTBSatu, Selasa, 24 Maret 2026.
Menurutnya, Pemkab menyiapkan sejumlah langkah konkret untuk membantu petani tetap berproduksi. Salah satunya melalui penyediaan bantuan sumur bor, baik dangkal maupun dalam, di wilayah yang mengalami kesulitan air.
Selain itu, pemerintah menyalurkan bantuan pompanisasi dan jaringan perpipaan untuk mengalirkan air dari sumber seperti sungai dan mata air ke lahan pertanian.
“Bantuan ini diharapkan bisa dimanfaatkan secara optimal oleh petani, terutama di daerah terdampak kekeringan,” katanya.
Wayan menjelaskan, pola tanam pada musim kemarau umumnya menyesuaikan karakteristik lahan. Pada lahan basah, petani menanam padi, jagung, dan bawang merah. Sementara di lahan kering, petani memilih kacang hijau, wijen, sayuran, dan berbagai jenis palawija.
“Petani perlu mempertimbangkan ketersediaan air saat menentukan jenis tanaman, supaya risiko gagal panen bisa ditekan,” tegasnya.
Tingkatkan Pendampingan Kepada Petani
Selain itu, Dinas Pertanian juga meningkatkan pendampingan kepada petani dan kelompok tani (Poktan). Pendampingan ini mencakup koordinasi, edukasi, hingga penguatan kapasitas petani dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem.
“Pendampingan ini penting agar petani bisa mengambil keputusan yang tepat dan tidak merugi saat panen,” jelasnya.
Ia menambahkan, upaya pencegahan gagal panen membutuhkan kerja sama antara petani, penyuluh, dan berbagai pihak terkait agar langkah antisipasi berjalan maksimal.
Petani juga perlu rutin memantau perkembangan cuaca melalui BMKG serta mengikuti arahan penyuluh pertanian di lapangan.
“Dengan informasi cuaca yang akurat dan pendampingan yang intensif, risiko gagal panen bisa diminimalkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, Pemkab berharap kombinasi bantuan infrastruktur air, pendampingan, serta ketepatan petani menentukan pola tanam mampu menjaga produktivitas pertanian di tengah ancaman musim kemarau. (*)



