Ekonomi NTB 2025 Tumbuh tapi Tertinggal, Urutan Ketiga Terbawah se-Indonesia
Mataram (NTBSatu) – Pertumbuhan ekonomi NTB sepanjang tahun 2025 secara kumulatif tercatat hanya sebesar 3,22 persen. Angka ini masih di bawah rata-rata nasional, yaitu 5,11 persen.
Selain itu, pertumbuhan tersebut juga masih di bawah target nasional, yaitu 7 persen maupun target dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) NTB sebesar 6 sampai 6,5 persen.
Angka ini masih menempatkan NTB pada posisi buncit. Yaitu, tiga terbawah dari 38 provinsi di Indonesia. Hanya lebih baik dari daerah Papua Tengah yang mengalami kontraksi minus 21,80 persen dan Provinsi Aceh, dengan pertumbuhan ekonomi 2,97 persen.
Demikian, jika dihitung per triwulan. Ekonomi NTB tumbuh meski merangkak. Namun, lagi-lagi masih tertinggal dari daerah lainnya.
Pertumbuhan Ekonomi NTB 2025 per Triwulan
Misalnya pada triwulan I tahun 2025, Ekonomi NTB mengalami kontraksi yang paling dalam. Menyentuh angka minus 1,47 persen. Angka ini menempatkan NTB sebagai salah satu dari hanya dua provinsi di Indonesia yang mengalami kontraksi ekonomi, bersama Papua Tengah yang tertekan lebih dalam hingga minus 25,53 persen.
Pada triwulan II tahun 2025, ekonomi NTB tumbuh sedikit daripada triwulan I periode yang sama. Namun masih mengalami kontraksi menyentuh angka minus, yaitu 0,82 persen. Angka ini menempatkan NTB pada posisi kedua terendah setelah Papua Tengah.
Setelah dua kuartal berturut-turut berada di angka minus, pada triwulan III tahun 2025, akhirnya NTB mencatat pertumbuhan positif, yaitu, 2,82 persen. Pertumbuhan ini setelah PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) kembali mendapatkan izin ekspor konsentrat tembaga. Namun, capaian ini belum cukup kuat untuk mengangkat posisi NTB dari papan bawah nasional.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, NTB masih berada di urutan ketiga terendah pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Jauh di bawah rata-rata nasional 5,04 persen. Hanya lebih baik dari daerah Papua Tengah minus 16,11 persen dan Papua Barat minus 0,13 persen.
Demikian, pada triwulan IV tahun 2025, pertumbuhan ekonomi NTB menunjukkan tren positif. Mengalami kenaikan dari triwulan tiga, yaitu 3,97 persen (q-to-q) dan melonjak 12,49 persen (y-on-y).
Kontraksi Tajam Sektor Pertambangan
Kepala BPS Provinsi NTB, Wahyudin mengatakan, lambatnya pertumbuhan ekonomi NTB pada tahun 2025 dipengaruhi kontraksi tajam pada sektor pertambangan, khususnya subsektor biji logam.
“Triwulan I dan II kita minus. Ini karena share PDRB terbesar kedua kita berasal dari tambang, sementara nomor satu adalah pertanian,” ujarnya, Senin, 23 Februari 2026.
Sektor pertambangan mengalami penurunan lebih dari 30 persen pada dua triwulan awal tahun 2025. Penurunan produksi tambang terjadi karena belum optimalnya kapasitas Smelter dalam menyerap hasil tambang dari PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT).
“Saat ini Smelter baru menyerap sekitar 30 sampai 35 persen hasil tambang. Sementara ekspor konsentrat dari Januari sampai Oktober 2025 tidak ada sama sekali,” jelasnya.
Ekspor baru mulai berjalan pada April–Mei 2025 melalui produk hasil Smelter berupa tembaga dan emas. Namun, volumenya masih relatif kecil karena keterbatasan kapasitas produksi Smelter yang belum mencapai kapasitas penuh (full capacity).
Memasuki November dan Desember 2025, Pemerintah Pusat memberikan relaksasi ekspor konsentrat kepada perusahaan tambang. Kebijakan ini berdampak pada membaiknya kinerja ekonomi pada triwulan III dan IV. Bahkan pada triwulan IV, pertumbuhan ekonomi NTB melonjak hingga sekitar 20 persen.
“Meski demikian, secara kumulatif dari triwulan I hingga IV, pertumbuhan ekonomi NTB tetap berada di angka 3,22 persen, yang disebut-sebut menjadi salah satu yang terendah di Indonesia,” katanya.
Izin relaksasi ekspor konsentrat tersebut dijadwalkan berakhir pada April 2026. Menjawab tantangan target pertumbuhan nasional sekitar 7 persen, BPS NTB menilai peluang tetap terbuka melalui perhitungan year–on-year.
“Pada triwulan I 2025 tidak ada ekspor konsentrat, sementara di triwulan I 2026 sudah ada ekspor. Dari kondisi nol menjadi ada, tentu secara year–on–year peningkatannya akan terlihat signifikan,” ungkapnya.
Dorong Pertumbuhan Sektor Non-Tambang
Ke depan, lanjutnya, NTB dinilai masih memiliki peluang menggenjot pertumbuhan melalui sektor non-tambang. Setidaknya ada tiga sektor utama yang berpotensi menjadi pengungkit, yakni pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan.
“Pariwisata juga disebut memiliki efek berganda karena melibatkan berbagai sektor, mulai dari ekonomi kreatif hingga hotel dan restoran,” ujarnya.
Terpisah, Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi NTB, Lalu Moh. Faozal menjawab santai soal angka pertumbuhan ekonomi NTB pada tahun 2025.
Ia mengaku akan terlebih dulu mencari tahu penyebabnya. “Iya nanti kita lihat apa penyebabnya. Kita akan identifikasi penyebabnya,” ujarnya. (*)



