Ekonomi NTB 2025 Tumbuh tapi Tertinggal, Urutan Ketiga Terbawah se-Indonesia
Kontraksi Tajam Sektor Pertambangan
Kepala BPS Provinsi NTB, Wahyudin mengatakan, lambatnya pertumbuhan ekonomi NTB pada tahun 2025 dipengaruhi kontraksi tajam pada sektor pertambangan, khususnya subsektor biji logam.
“Triwulan I dan II kita minus. Ini karena share PDRB terbesar kedua kita berasal dari tambang, sementara nomor satu adalah pertanian,” ujarnya, Senin, 23 Februari 2026.
Sektor pertambangan mengalami penurunan lebih dari 30 persen pada dua triwulan awal tahun 2025. Penurunan produksi tambang terjadi karena belum optimalnya kapasitas Smelter dalam menyerap hasil tambang dari PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT).
“Saat ini Smelter baru menyerap sekitar 30 sampai 35 persen hasil tambang. Sementara ekspor konsentrat dari Januari sampai Oktober 2025 tidak ada sama sekali,” jelasnya.
Ekspor baru mulai berjalan pada April–Mei 2025 melalui produk hasil Smelter berupa tembaga dan emas. Namun, volumenya masih relatif kecil karena keterbatasan kapasitas produksi Smelter yang belum mencapai kapasitas penuh (full capacity).



