HEADLINE NEWSLombok Barat

Perjalanan Terjal Melawan Tradisi Pernikahan Dini di Lombok Barat

“Anaknya dibelikan HP, tapi pengawasan siapa yang pegang? Sementara orang tuanya tidak paham teknologi,” ujar sang Wali Kelas dengan nada prihatin.

Dunia maya inilah, menurut Kepala Sekolah dan Wali Kelas, yang menjadi pintu masuk berbagai pengaruh luar. Anak-anak yang masih hijau itu perlahan tergiring pada praktik merarik kodek istilah dalam bahasa Sasak yang merujuk pada pernikahan dini.

Para guru menghadapi tantangan ganda. Mereka tidak hanya berhadapan dengan tuntutan kurikulum, tetapi juga dengan pola pikir masyarakat yang masih memandang pendidikan sebagai sesuatu yang tidak penting.

Ah, untuk apa sekolah, ujung-ujungnya ke sawah,” tutur Kepala Sekolah menirukan ucapan yang kerap ia dengar dari warga sekitar.

Ironisnya, ketika kasus pernikahan anak ini mencuat, pihak sekolah justru menghadapi resistensi. Sejumlah orang tua keberatan anaknya dipisahkan, bahkan ada yang berniat mengembalikan rapor sebagai tanda menghentikan pendidikan anaknya. 

‘’Padahal, secara hukum, anak-anak tersebut tidak mungkin memperoleh dispensasi nikah karena usia mereka masih jauh di bawah batas minimal yang ditentukan undang-undang,’’ tegas Wali Kelas.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button