Ribuan Jiwa Terdampak Banjir Bandang, Pemkab Sumbawa Barat Mulai Asesmen Kerugian
Sumbawa Barat (NTBSatu) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumbawa Barat, mengonfirmasi sebanyak 2.093 jiwa merasakan dampak langsung musibah banjir bandang yang menerjang empat kecamatan pada akhir Februari lalu.
​Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbawa Barat, Abdullah menegaskan, meski air telah surut, pihaknya kini sedang menerjunkan tim untuk melakukan asesmen menyeluruh terhadap total kerugian material dan kerusakan infrastruktur.
​”Kami sedang melakukan proses asesmen di lapangan. Tim akan menghitung secara detail nilai kerugian aset akibat bencana ini,” tegas Abdullah kepada NTBSatu, Selasa, 3 Maret 2026.
​Berdasarkan laporan cepat penanggulangan bencana yang diterima NTBSatu, sebaran warga terdampak paling signifikan berada di Kecamatan Maluk dengan total 1.422 jiwa. Menyusul, Kecamatan Jereweh sebanyak 480 jiwa dan Kecamatan Sekongkang mencapai 191 jiwa.
Dampak Banjir di Sumbawa Barat
​Abdullah menjelaskan, terdapat penambahan data warga terdampak di Sekongkang, yakni satu keluarga di bantaran sungai yang mengalami kondisi rumah terendam dan terkikis luapan air. Selain pemukiman warga, banjir juga merusak fasilitas pendidikan cukup serius.
​”Di Desa Mataiyang, banjir merobohkan tembok pagar SMP Satap dan memutus jembatan sekolah. Satu ruangan juga mengalami rusak ringan. Ini menjadi atensi kami untuk segera mengoordinasikan langkah penanganannya,” ungkapnya.
​Menyikapi temuan kerusakan tersebut, Abdullah menjelaskan, fungsi koordinasi antar-OPD kini fokus pada penghitungan nilai aset. Ia menjadwalkan pertemuan teknis pada Kamis mendatang untuk menyinkronkan data lapangan.
​”InsyaAllah hari Kamis, kami bersama seluruh OPD terkait, termasuk Dinas PUPR, akan turun menghitung kerugian infrastruktur tersebut. Hasilnya nanti menjadi dasar rekomendasi untuk langkah perbaikan selanjutnya,” jelasnya.
​Pemkab Sumbawa Barat memastikan, penanganan darurat berupa pendistribusian logistik makanan siap saji dan sembako telah tuntas sejak awal kejadian. Ia juga mengatakan, salah satu sebab banjir karena curah hujan yang tinggi dan topografi wilayah Kabupaten Sumbawa Barat yang miring.
​”Curah hujan memang tinggi saat itu, namun karena topografi wilayah kita miring, air banjir cepat mengalir dan tidak sampai 12 jam menggenang. Tapi sekarang aktivitas masyarakat sudah kembali normal,” tutupnya. (*)



