Sumbawa Barat

Virus Tungro Serang Petani KSB, Pemerintah Segera Salurkan Obat-obatan

Sumbawa Barat (NTBSatu) – Sektor pertanian di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) kini dalam kondisi siaga. Hal ini akibat serangan hama wereng, penyakit virus Tungro, serta fenomena “asaman” tanah yang meluas di Kecamatan Brang Rea, Brang Ene, Taliwang, dan Sekongkang.

Berdasarkan data laporan klaim asuransi (AUTP), sedikitnya 121,73 hektare lahan sawah telah terdampak kerusakan dengan estimasi nilai klaim mencapai Rp730.380.000. Kerusakan paling signifikan akibat infeksi virus Tungro yang berasal wereng hijau, terutama di wilayah Brang Ene dan Brang Rea.

IKLAN

Kepala Dinas Pertanian KSB, Jamilatun melalui Kepala Bidang Produksi Pertanian, Syamsul Rizal mengatakan, fenomena ini akibat cuaca ekstrem yang menyebabkan genangan air berkepanjangan.

“Padi ini bukan tanaman air, tetapi butuh air. Ketika hujan terus-menerus dan drainase sulit, tanah menjadi jenuh dan tingkat keasamannya meningkat tajam,” ujarnya kepada NTBSatu, Rabu, 1 April 2026.

Kondisi tanah yang asam membuat tanaman sangat rentan terserang virus Tungro yang mengakibatkan padi menjadi kerdil. Masalah diperparah oleh salah diagnosis petani yang mengira padi memerah karena kurang pupuk, sehingga mereka justru menambah dosis Urea.

“Urea mengandung unsur N. Ketika N sudah kelebihan di tanah asam lalu ditembak lagi dengan Urea, tanaman justru hancur dan busuk,” tegasnya mengingatkan risiko kesalahan pemupukan tersebut.

Solusi Obat-obatan

Sebagai solusi cepat, Pemerintah KSB memastikan bantuan obat-obatan (pestisida) akan mulai didistribusikan ke masing-masing kecamatan pada minggu ini. “Minggu ini kemungkinan bisa kita drop in (antarkan, red) ke kecamatan. Begitu obat dikirim, langsung kita sebar untuk penanganan segera,” tambahnya.

Selain pestisida, pemerintah juga menyiapkan bantuan kapur dolomit untuk menetralkan pH tanah. Petani juga disarankan beralih ke pemupukan melalui daun, karena kondisi akar yang sudah rusak tidak mampu menyerap nutrisi secara optimal.

Untuk jangka panjang, pemerintah mengarahkan rotasi tanaman palawija guna memutus siklus hama. “Tanah perlu bernafas dan mendapatkan oksigen agar mikroorganisme bekerja optimal,” ungkapnya.

Tim JASTER dari Kementerian Pertanian bersama Jasindo akan turun langsung pada Kamis ini, untuk memverifikasi kerusakan lapangan sebagai syarat pencairan asuransi bagi petani terdampak. (Andini)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button