Sumbawa Barat

DLH KSB Endus Dugaan Sabotase di Balik Kematian Ikan di Muara Boa

Sumbawa Barat (NTBSatu) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), angkat bicara mengenai fenomena kematian ikan secara massal di perairan Muara Boa, Batu Putih, Kecamatan Taliwang. Berdasarkan hasil investigasi lapangan, muncul dugaan adanya faktor kesengajaan atau sabotase di balik peristiwa tersebut.

Staf Bidang Pembinaan dan Pengawasan Lingkungan Hidup DLH KSB, Samsuryadi mengungkapkan, berdasarkan koordinasi dengan Pemerintah Desa Banjar, terdapat dua kecurigaan utama. Pertama, adanya aktivitas pengelolaan emas (tong) di hulu yang diduga membuang limbah ke aliran sungai. Kedua, adanya indikasi tindakan kriminal berupa peracunan atau pengeboman ikan oleh oknum tidak dikenal.

IKLAN

“Ada dugaan oknum yang sengaja melakukan peracunan ikan untuk kepentingan pribadi. Bahkan, muncul praduga adanya pihak yang sengaja meracuni perairan, karena ketidaksukaan terhadap keberadaan pengusaha tong emas di wilayah tersebut,” ujarnya kepada NTBSatu, Rabu, 1 April 2026.

Sampel Air Tidak Lagi Efektif

Terkait pengujian laboratorium, DLH KSB mengaku, tidak bisa mengambil sampel air maupun bangkai ikan untuk mendapatkan hasil yang akurat. Hal ini akibat rentang waktu kejadian yang sudah terlalu lama, yakni sejak Jumat, 27 Maret 2026, sementara tim baru bisa turun ke lokasi pada Selasa, 31 Maret 2026.

“Sangat tidak efektif jika kita ambil sampel sekarang karena air muara itu dinamis, sudah terbawa arus ke laut lepas. Pengalaman tahun lalu, pengujian yang dilakukan terlambat selalu menunjukkan hasil nihil karena kondisi air yang sudah berganti,” jelasnya.

Prosedur Pengaduan Resmi

DLH KSB juga menyoroti, kebiasaan masyarakat yang lebih memilih memviralkan kejadian di media sosial ketimbang melapor ke jalur resmi. Samsuryadi menegaskan, sesuai arahan Kepala Dinas LH, tim baru bisa melakukan tindakan jika terdapat laporan pengaduan yang valid.

“Kalau hanya di media sosial, terkadang datanya tidak lengkap atau tujuannya berbeda-beda. Kami di LH butuh laporan resmi masuk ke bagian pengaduan agar bisa segera turun saat kejadian masih berlangsung (real-time). Jika laporannya cepat, hasil uji sampel pasti akan lebih akurat,” tegasnya.

Ke depannya, DLH KSB meminta pemerintah desa untuk lebih proaktif melibatkan dinas saat menemukan kejadian pertama kali agar investigasi lapangan tidak kehilangan momentum penting. (Andini)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button