Sumbawa Barat

Misteri Ikan Mati di Muara Boa, Dinas Perikanan KSB Kehilangan Momentum Sampel

Sumbawa Barat (NTBSatu) – Dinas Perikanan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), merespons laporan warga mengenai fenomena sejumlah ikan mati di perairan Muara Boa, Batu Putih, Kecamatan Taliwang, pada Jumat, 27 Maret 2026. Pihaknya langsung menerjunkan tim ke lapangan untuk melakukan investigasi. Meski demikian, hingga saat ini penyebab pasti kematian massal ikan tersebut masih menjadi misteri.

Kepala Dinas Perikanan KSB, Agus Purnawan menyayangkan, lambatnya laporan resmi dari pihak pemerintah desa terkait kejadian tersebut. Pihak dinas baru bergerak setelah informasi viral di media sosial. Sehingga saat tim tiba di lokasi, momentum untuk mengambil sampel air dan ikan yang segar sudah terlewat.

IKLAN

“Kami langsung merespons karena tidak ingin isu lingkungan ini merembet. Namun, koordinasi di lapangan menunjukkan laporan tidak secara spontan oleh pihak desa. Karena kondisi ini rupanya sudah sering terjadi,” ujarnya kepada NTBSatu, Selasa 31 Maret 2026.

Kepala Bidang Sumberdaya dan Pengelolaan Hasil Perikanan Dinas Perikanan KSB, Asni Riyanti yang turun langsung ke lokasi menjelaskan, tim tidak menemukan sisa ikan mati saat tiba di Muara Buak.

“Kami sampai di sana kondisi sudah bersih. Ikan kemungkinan sudah habis dimangsa burung atau binatang lain. Jika kami mengambil sampel air sekarang, hasilnya tidak akan akurat karena air sudah berganti akibat pasang surut. Kejadiannya diperkirakan sejak Jumat malam, sementara pengecekan dilakukan beberapa hari setelahnya,” jelas Asni.

Analisis Penyebab

Ada beberapa spekulasi yang muncul di tengah masyarakat, mulai dari dugaan pencemaran logam berat akibat aktivitas pemurnian emas hingga penggunaan bahan kimia oleh pemancing luar. Namun, Agus Purnawan memberikan catatan penting terkait pola kematian ikan tersebut.

“Kalau pengaruh logam berat dari sungai, seharusnya ikan mati di sepanjang aliran. Tapi ini hanya di satu titik, yaitu di muara. Selain itu, berdasarkan pengalaman sebelumnya, hasil uji laboratorium terhadap kejadian serupa menunjukkan hasil negatif, yang sempat membuat pihak desa ragu untuk melapor kembali,” tambahnya

Langkah Antisipasi ke Depan

Pihak Dinas Perikanan KSB menegaskan, dalam hal ini sektor perikanan merupakan pihak yang dirugikan (korban). Sebagai langkah konkret, Agus Purnawan berencana memperkuat pengawasan di tingkat bawah.

“Ke depan, kami akan mengoordinasikan kembali dengan Dinas Lingkungan Hidup (LH) dan Perindustrian. Kami tidak ingin saling lempar tanggung jawab. Langkah terdekat adalah membentuk Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas), terutama di daerah perbatasan seperti Banjar dan Batu Putih, agar pengawasan terhadap aktivitas penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan dapat diperketat,” tegas Agus.

Ia mengimbau masyarakat, untuk segera melaporkan kejadian serupa secara resmi kepada dinas terkait sesaat setelah kejadian, agar pengambilan sampel dapat secara cepat dan akurat demi menjaga kelestarian ekosistem perairan setempat. (Andini)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button