Membaca Kinerja Tahunan Secara Utuh
Dalam analisis ekonomi regional, indikator pertumbuhan ekonomi kumulatif tahunan (c–to-c) merupakan ukuran yang paling komprehensif karena mencerminkan kinerja seluruh triwulan dalam satu tahun. Data 2025 menunjukkan bahwa NTB mengalami kontraksi pada awal tahun, khususnya pada triwulan I dan II, sebelum kemudian mencatatkan pemulihan pada paruh kedua tahun. Lonjakan pertumbuhan pada akhir tahun memang memberikan dorongan positif, tetapi tidak cukup kuat untuk menutup pelemahan di awal periode. Kondisi ini penting digarisbawahi agar publik tidak terjebak pada optimisme semu akibat pertumbuhan tinggi pada satu triwulan tertentu. Pertumbuhan ekonomi yang sehat dan berkelanjutan ditandai oleh konsistensi aktivitas ekonomi sepanjang tahun, bukan oleh lonjakan sesaat.
Ketergantungan pada Sektor Padat Modal
Salah satu penjelasan utama fluktuasi pertumbuhan ekonomi NTB adalah struktur ekonomi yang masih sangat bergantung pada sektor padat modal, terutama pertambangan dan industri pengolahan berbasis hilirisasi, termasuk smelter. Ketika aktivitas sektor ini meningkat, pertumbuhan ekonomi daerah dapat melonjak tajam. Namun ketika terjadi perlambatan produksi atau penyesuaian kebijakan ekspor, dampaknya langsung menekan kinerja ekonomi NTB secara keseluruhan.
Ketergantungan yang tinggi terhadap sektor tertentu membuat ekonomi daerah rentan terhadap gejolak eksternal dan kebijakan nasional. Pada saat yang sama, sektor-sektor yang menyerap tenaga kerja luas, seperti pertanian, perikanan, UMKM, dan pariwisata berbasis komunitas, belum sepenuhnya berfungsi sebagai penyangga utama pertumbuhan ekonomi.



