Ekonomi Bisnis

Ekspor Melejit, NTB Dorong Diversifikasi Non-Tambang

Mataram (NTBSatu) – Kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menunjukkan tren yang menguat pada akhir 2025.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, nilai ekspor luar negeri NTB pada Triwulan IV-2025 mencapai USD 1.096,75 juta. Meningkat tajam dari Triwulan IV-2024 yang sebesar USD 245,92 juta.

Di sisi lain, nilai impor NTB justru menurun. Pada Triwulan IV-2025, impor tercatat sebesar USD 54,30 juta. Lebih rendah dari USD 121,74 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kondisi ini membuat neraca perdagangan NTB mencatat, surplus yang lebih besar dan memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Kepala Biro Ekonomi dan Pembangunan (Karo Ekbang) Setda Provinsi NTB, Izzudin Mahili menyampaikan, kinerja perdagangan luar negeri tersebut menjadi sinyal positif meningkatnya aktivitas ekonomi daerah. Khususnya, pada sektor yang berorientasi ekspor.

“Peningkatan ekspor di akhir 2025 menunjukkan aktivitas ekonomi NTB kembali bergerak kuat. Ini menjadi modal penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi ke depan,” ujar Izzudin, Jumat, 6 Februari 2026.

Berdasarkan penjelasan BPS, lanjutnya, lonjakan ekspor tersebut terutama akibat meningkatnya ekspor komoditas pertambangan dan industri pengolahan berbasis logam. Hal ini seiring relaksasi ekspor konsentrat dan mulai optimalnya operasional Smelter sejak Oktober 2025.

“Faktor ini menjadikan sektor pertambangan sebagai kontributor utama kenaikan nilai ekspor NTB pada akhir tahun,” ujarnya.

Dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa tercatat sebagai sumber pertumbuhan ekonomi terbesar, dengan kontribusi mencapai 26,28 persen secara tahunan (yearonyear). Sementara itu, impor yang relatif rendah memperkuat kontribusi bersih perdagangan luar negeri terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB.

Meski demikian, pemerintah daerah menilai pentingnya menjaga keseimbangan struktur ekspor agar tidak terlalu bergantung pada satu sektor.

Dorong Penguatan Ekonomi Sektor Non-Tambang

Mantan Plt. Kepala Dinas ESDM ini menegaskan, penguatan sektor non-tambang terus menjadi perhatian dalam kebijakan ekonomi daerah.

“Kinerja ekspor saat ini memang masih sangat dipengaruhi sektor pertambangan. Karena itu, pemerintah daerah terus mendorong penguatan sektor non-tambang agar ekspor NTB ke depan lebih beragam dan berkelanjutan,” jelasnya.

Sejumlah indikator menunjukkan sektor non-tambang mulai bergerak. Sektor perdagangan tumbuh 12,29 persen secara tahunan, akibat meningkatnya aktivitas produksi dan distribusi barang di dalam daerah.

Selain itu, produksi padi NTB pada Triwulan IV-2025 mencapai 200,16 ribu ton Gabah Kering Giling (GKG). Meningkat 31,42 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya, yang turut memperkuat fondasi ekonomi domestik.

Menurut Izzudin, penguatan sektor-sektor domestik tersebut akan menjadi penopang penting bagi perekonomian NTB pada 2026, terutama apabila terjadi penyesuaian pada kinerja ekspor tambang.

“Ke depan, sektor pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan non-tambang akan terus diperkuat agar pertumbuhan ekonomi NTB tetap terjaga dan manfaatnya dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” ujarnya.

BPS mencatat, pola perdagangan luar negeri NTB pada akhir 2025 menunjukkan surplus yang besar, meskipun masih dipengaruhi dinamika sektor pertambangan. Dengan upaya diversifikasi dan penguatan sektor non-tambang, pemerintah optimistis kinerja perdagangan dan pertumbuhan ekonomi NTB dapat terjaga secara lebih stabil dan berkelanjutan. (*)

Muhammad Yamin

Jurnalis NTBSatu

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button