Pemprov NTB Siapkan Subsidi Biaya Sertifikasi Tekan Pengangguran Lulusan SMK
Mataram (NTBSatu) – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal menyoroti, tingkat pengangguran di NTB masih didominasi oleh lulusan SMK. Hal tersebut ia sampaikan saat mengunjungi SMKN 1 Gerung dalam rangka Safari Ramadan, Kamis, 26 Februari 2026.
Iqbal menilai, kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam sistem pendidikan vokasi. Menurutnya, SMK yang dirancang untuk menyiapkan tenaga siap kerja justru belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan dunia industri.
“Kami tidak ingin SMK nantinya menjadi penyumbang pengangguran. Tetapi justru menjadi solusi terhadap tingginya pengangguran yang kita hadapi,” tegasnya.
Dalam dialog bersama pihak sekolah, Gubernur Iqbal mendapati salah satu kendala utama lulusan SMK memasuki dunia kerja adalah ketiadaan sertifikasi kompetensi. Meski memiliki keterampilan dan nilai akademik yang baik, banyak industri belum mengakui lulusan secara formal karena tidak tersertifikasi melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP).
“Skill (kemampuan) mereka ada, ijazah ada, tetapi tidak certified (bersertifikat, red). Biaya sertifikasi mahal dan ini menjadi hambatan serius bagi anak-anak kita,” ujar Iqbal.
Menjawab persoalan tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB menyiapkan subsidi biaya sertifikasi bagi siswa SMK. Pada tahap awal, pemerintah mengalokasikan pembiayaan sertifikasi bagi ratusan siswa dan akan menambah kuota pada anggaran perubahan tahun berjalan.
Selain itu, pemerintah juga mendorong penguatan program link and match antara SMK dan dunia usaha. Termasuk, kerja sama dengan industri nasional maupun internasional.
Iqbal menekankan, setiap SMK harus memiliki keunggulan yang jelas dan relevan dengan kebutuhan pasar kerja. Tanpa arah tersebut, lulusan SMK berisiko terus terjebak dalam lingkaran pengangguran terdidik.
Keterbatasan Sarana dan Prasarana
Sementara itu, Kepala SMKN 1 Gerung, Hj. Erni Zuhara mengakui keterbatasan sarana prasarana masih menjadi tantangan serius. Dari 33 rombongan belajar, sekolah hanya memiliki 17 ruang kelas. Sehingga, pembelajaran harus disiasati melalui program magang di industri dan pemanfaatan ruang secara bergantian.
“Tetapi meskipun mereka berada di industri, kami tetap melaksanakan pembelajaran secara bergantian. Ini strategi yang kami terapkan untuk mengatasi kesenjangan antara jumlah siswa dengan ruang belajar,” ujar Erni.
Erni juga menambahkan, di tengah keterbatasan itu, siswa mereka tetap mampu berprestasi di tingkat nasional. SMKN 1 Gerung sempat menjadi juara terbaik dalam lomba Halal Set Competition di Indonesia Timur.
“Inilah cara-cara kita menyiasati dan alhamdulillah dengan hambatan seperti itu anak-anak mampu berprestasi, bahkan sampai tingkat nasional,” ujarnya.
Luncurkan Esktrakurikuler Nyeseq
Di sela kunjungan tersebut, Gubernur Iqbal juga meninjau sekaligus menyaksikan peluncuran ekstrakurikuler Nyeseq (menenun) sebagai keterampilan tambahan bagi siswa.
Iqbal menilai, program ini sebagai contoh penguatan kompetensi berbasis budaya lokal, meski penguatan kemampuan harus tetap berorientasi pada penyerapan tenaga kerja.
Kepala Program Desain dan Produksi Busana SMKN 1 Gerung, Bq. Fenny Yuana menyebut, kegiatan menenun atau nyeseq diarahkan sebagai bekal tambahan bagi siswa agar memiliki nilai jual di luar jalur kerja formal.
“Tujuannya membentuk anak-anak muda yang mau dan mampu meneruskan keterampilan menenun. Ini bukan hanya soal budaya, tetapi juga alternatif penghasilan bagi mereka,” ujarnya.
Ia berharap, penguatan keterampilan seperti ini dapat berjalan beriringan dengan program sertifikasi dan kemitraan industri. Sehingga lulusan SMK tidak hanya terampil, tetapi juga diakui dan terserap di dunia kerja. (Zani)



