Ekonomi Bisnis

Tiga Daerah Barometer Ekonomi NTB Kompak Alami Inflasi, Mataram Tembus 3,21 Persen

Mataram (NTBSatu) – Stabilitas harga di Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah menjadi sorotan. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB melaporkan, tiga wilayah yang menjadi barometer ekonomi di daerah ini, Kota Mataram, Kabupaten Sumbawa, dan Kota Bima kompak mengalami inflasi secara bersamaan.

Kepala BPS Provinsi NTB, Wahyudin mengungkapkan, tren kenaikan harga ini terjadi baik secara bulanan (month-to-month) maupun tahunan (year-on-year). Fenomena ini dipicu oleh naiknya harga sejumlah komoditas pangan dan barang hobi, yang terjadi merata di tiga titik pantauan tersebut.

Jika menilik data dari bulan ke bulan, Kota Bima mencatatkan lonjakan harga paling tajam dari dua daerah lainnya. Kota Bima memimpin dengan inflasi sebesar 0,80 persen. Kemudian, Kota Mataram menyusul di angka 0,71 persen dan Kabupaten Sumbawa mencatatkan kenaikan 0,70 persen.

Wahyudin menjelaskan, meski Bima secara persentase bulanan lebih tinggi, Kota Mataram tetap memiliki pengaruh atau bobot paling besar dalam menentukan potret inflasi provinsi karena mencakup hingga 364 komoditas barang dan jasa.

IKLAN

Secara tahunan, Kota Mataram menunjukkan tekanan harga yang lebih kuat dibandingkan rata-rata provinsi. Inflasi tahunan di Ibu Kota Provinsi NTB ini menyentuh angka 3,21 persen, lebih tinggi dari inflasi NTB yang berada di level 3,01 persen.

“Angka ini masih berada dalam rentang target pemerintah, yakni 2,5 plus minus 1. Artinya, batas atasnya adalah 3,5 persen dan Mataram masih di bawah itu,” jelas Wahyudin dalam paparannya, Senin, 5 Januari 2026.

Pemicu Inflasi di Tiga Daerah

Sebagai perbandingan, Kota Bima berada di angka 2,94 persen dan Sumbawa di level terendah dengan 2,78 persen. Menariknya, ada kesamaan pola konsumsi yang memicu inflasi di ketiga daerah tersebut.

Cabai rawit, bawang merah, dan emas perhiasan menjadi tiga serangkai komoditas yang harganya kompak naik di Mataram, Sumbawa, maupun Bima. Namun, ada sedikit perbedaan pada komoditas daging ayam ras.

Kenaikan harga daging ayam hanya berdampak signifikan pada inflasi di Mataram dan Sumbawa, sementara di Kota Bima komoditas ini tidak masuk dalam jajaran utama pemicu inflasi.

Wahyudin mengingatkan, menjaga angka inflasi tetap stabil sangat krusial bagi psikologi pasar. “Kalau harga terlalu rendah atau deflasi terus-menerus, orang malas berproduksi karena biaya tidak sebanding dengan harga jual. Sebaliknya, jika inflasi terlalu tinggi hingga dua digit, daya beli masyarakat akan terpukul hebat,” jelasnya. (*)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button