Ekonomi BisnisHEADLINE NEWS

Inflasi NTB Februari 2026 Tembus 5,37 Persen, Kota Bima Tertinggi

Mataram (NTBSatu) – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi tahunan (yony) Provinsi NTB pada Februari 2026 mencapai 5,37 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,49.

Kepala BPS Provinsi NTB, Wahyudin mengatakan, dari seluruh wilayah pemantauan, inflasi tertinggi terjadi di Kota Bima sebesar 6,40 persen dengan IHK 112,06.

“Sementara itu, inflasi terendah tercatat di Kabupaten Sumbawa sebesar 4,88 persen dengan IHK 111,60,” kata Wahyudin, Senin, 2 Maret 2026.

Ia menjelaskan, inflasi ini menunjukkan tekanan harga di NTB masih cukup kuat. Terutama pada sektor perumahan dan jasa perawatan pribadi, yang menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan pada awal 2026.

“Beberapa menjadi pemicu inflasi adalah, kenaikan harga pada sembilan dari sebelas kelompok pengeluaran,” ujarnya.

Kenaikan paling signifikan, katanya, terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melonjak 22,77 persen. Disusul kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang naik 16,83 persen.

Selanjutnya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga mengalami kenaikan sebesar 3,92 persen. Selain itu, kelompok pendidikan naik 2,79 persen; rekreasi, olahraga, dan budaya 1,73 persen. Penyediaan makanan dan minuman/restoran 1,92 persen; kesehatan 1,32 persen; pakaian dan alas kaki 0,66 persen; serta transportasi 0,13 persen.

“Sebaliknya, dua kelompok pengeluaran mengalami penurunan indeks. Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga turun 0,18 persen. Sementara, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami penurunan sebesar 0,10 persen,” jelasnya.

Secara bulanan (mtom), NTB mengalami inflasi sebesar 0,84 persen pada Februari 2026. Sedangkan, tingkat inflasi tahun kalender (ytod) tercatat sebesar 1,12 persen.

Komoditas Penyumbang Inflasi

Ia menjelaskan, adapun komoditas yang dominan dalam menyumbang inflasi secara tahunan (yony) pada Februari 2026, antara lain: tarif listrik, emas perhiasan, daging ayam ras, ikan teri, cabai rawit, Sigaret Kretek Mesin (SKM), udang basah, akademi/perguruan tinggi, nasi dengan lauk, minyak goreng, dan kontrak rumah.

Selanjutnya apel, Sigaret Kretek Tangan (SKT), daging sapi, ikan layang/ ikan benggol, bawang merah, ikan bandeng/ikan bolu, ikan tongkol/ ikan ambu-ambu, ayam hidup, dan kopi bubuk.

Sedangkan komoditas yang dominan memberikan andil deflasi yony pada Februari 2026, antara lain: cabai merah, bensin, terong, bawang putih, wortel, parfum, sabun detergen bubuk, bayam, angkutan sungai, danau dan penyeberangan, jeruk nipis/limau, pisang, tomat, sawi hijau, kentang, detergen cair, mesin cuci, cabai hijau, dan susu bubuk untuk balita. (*)

Muhammad Yamin

Jurnalis NTBSatu

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button