HEADLINE NEWSLiputan Khusus

LIPSUS – Kemiskinan di Lingkar Mandalika: Ketika KEK Tumbuh, Warga Tetap Terpinggirkan

Tekanan Ekonomi dan Eksploitasi Anak

Kemiskinan yang mengakar di lingkar Mandalika juga memunculkan persoalan sosial yang lebih dalam. 

Di kawasan pantai dan pusat hiburan, anak-anak terlihat berjualan gelang hingga malam hari. 

Fenomena ini bukan semata pilihan, melainkan konsekuensi dari keterdesakan ekonomi keluarga.

Orang tua yang tidak memiliki akses pekerjaan layak terpaksa membiarkan anak-anak mereka bekerja untuk menopang ekonomi rumah tangga. Praktik ini menjadi bentuk eksploitasi anak yang lahir dari kemiskinan struktural, bukan dari kelalaian semata.

Situasi tersebut diperburuk dengan masih tingginya angka buta huruf dan pernikahan dini di Desa Kuta dan sekitarnya, yang membuat generasi muda kehilangan kesempatan untuk keluar dari lingkar kemiskinan.

Baiq Dewi Yuningsih, pendidik sekaligus pendiri Anak Alam Intercultural School, menilai pembangunan Mandalika berjalan terlalu cepat dibanding kesiapan sumber daya manusia lokal.

“Kuta Mandalika berkembang sangat pesat, tapi kesiapan SDM lokal untuk memaknainya belum sepenuhnya terbangun,” ujarnya.

Menurut Dewi, masih banyak warga yang belum memiliki kecakapan dasar untuk terlibat dalam industri pariwisata, mulai dari literasi hingga keterampilan kerja. Tanpa pendidikan inklusif yang mengaitkan pariwisata dengan konteks lokal, seperti travel and tourism berbasis budaya dan kelautan masyarakat hanya akan menjadi pekerja marginal atau tersisih sama sekali.

ITDC dan Tantangan Pembangunan Inklusif

Sebagai pengelola KEK Mandalika, ITDC kerap menekankan besarnya potensi kawasan ini dalam mendorong pertumbuhan ekonomi NTB. Namun potensi tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat lokal.

Minimnya intervensi pemerintah daerah dan stakeholder dalam membangun UMKM yang berkelanjutan membuat ekonomi lokal tidak terkoneksi dengan aktivitas utama KEK. 

 ITDC mulai menggeser pendekatan pengelolaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika ke arah yang lebih inklusif dan berbasis budaya. 

Langkah ini ditandai dengan peluncuran program Mandalika Art Performance di Bazar Mandalika, Sabtu, 31 Januari 2026 yang melibatkan langsung masyarakat, seniman, dan pelaku UMKM lokal.

Public Community and Relations The Mandalika, Rizal Sugiono, menyampaikan Bazar Mandalika dirancang sebagai ruang bersama, bukan sekadar fasilitas penunjang kawasan wisata.

“ITDC sekarang tidak hanya bicara soal kawasan yang bagus secara visual, tetapi bagaimana kawasan ini hidup dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” ujar Rizal.

Menurutnya, pendekatan berbasis budaya dipilih karena merupakan pintu masuk paling dekat dengan kehidupan warga sekitar Mandalika.

Dalam pelaksanaan perdana, Mandalika Art Performance menggandeng Karang Taruna Desa Kuta dan Yayasan Gugah Nurani. Anak-anak dan pemuda lokal tampil membawakan seni tradisional, menjadikan mereka bukan lagi penonton pariwisata, tetapi bagian dari atraksi itu sendiri.

Rizal menambahkan, ke depan Mandalika Art Performance akan terus dikembangkan agar relevan dengan generasi muda.

“Tidak hanya tari tradisional, nanti akan ada seni kreasi kontemporer. Kami ingin anak-anak muda Mandalika merasa memiliki ruang di kawasan ini,” jelasnya.

Selain soal budaya, Mandalika Art Performance juga dirancang untuk menjawab isu pemerataan dampak ekonomi pariwisata. Selama ini, keramaian wisatawan kerap terpusat di titik-titik tertentu, sementara pelaku UMKM di area lain belum merasakan dampak signifikan.

Adanya penguatan Bazar Mandalika, ITDC berupaya menciptakan pusat aktivitas ekonomi baru yang lebih dekat dengan masyarakat.

“Kalau semua terpusat di satu tempat, yang menikmati juga terbatas. Bazar Mandalika kami dorong supaya menjadi ruang ekonomi rakyat,” tutup Rizal. (*)

Laman sebelumnya 1 2 3 4

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button