HEADLINE NEWSLiputan Khusus

LIPSUS – Kemiskinan di Lingkar Mandalika: Ketika KEK Tumbuh, Warga Tetap Terpinggirkan

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika kerap diposisikan sebagai etalase keberhasilan pembangunan pariwisata nasional.  Sirkuit MotoGP berstandar internasional, hotel berbintang, vila mewah, dan jalan-jalan lebar mulus beraspal yang membelah perbukitan selatan Lombok Tengah menjadi simbol modernisasi dan masuknya investasi besar. Ketika dilihat lebih dekat, kehidupan masyarakat di lingkar kawasan berjalan dengan napas yang berbeda. Lebih pelan, lebih berat, dan penuh ketidakpastian.

———————

Ketika matahari condong ke barat dan wisatawan kembali ke hotel, kehidupan masyarakat di desa-desa sekitar kembali ke wajah aslinya. Dapur yang mengepul seadanya, perahu nelayan yang ditambatkan tanpa kepastian esok hari, dan anak-anak yang masih berkeliling menjajakan gelang di pasir pantai.

“Kalau dilihat dari luar memang Mandalika maju sekali. Tapi bagi kami yang tinggal di sini, hidup ya masih begitu-begitu saja,” ujar Aceng, seorang warga Desa Kuta yang berprofesi sebagai pekerja di kedai kopi, Sabtu, 30 Januari 2026.

“Kalau tidak jualan, kami makan apa?” ujar Inaq Rum seorang ibu di kawasan pantai Kuta Mandalika, sambil mengawasi anaknya yang menawarkan gelang pada wisatawan asing.

Pertanyaan sederhana itu merangkum realitas besar yang selama ini luput dari narasi pembangunan Mandalika.

NTBSatu mencoba membedah sejumlah riset akademik, pengamatan pengamat ekonomi, dan realitas lapangan yang mengungkapkan sejatinya pertumbuhan KEK Mandalika belum berbanding lurus dengan penurunan kemiskinan di sekitarnya.

1 2 3 4Laman berikutnya

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button