NTBPendidikan

Lawan Pinjol dan Judol, Pelajar NTB Tabung Rp300 Miliar

Mataram (NTBSatu) – Pelajar di NTB membuktikan disiplin finansial mereka di tengah gempuran tren konsumtif dan ancaman kejahatan keuangan digital. Lewat program Simpanan Pelajar (SimPel), ribuan siswa di NTB sukses menghimpun total tabungan dengan nilai fantastis menembus Rp300 miliar.

Capaian angka besar ini terungkap dalam Puncak Peringatan Hari Indonesia Menabung yang memboyong 1.500 pelajar NTB di Gelanggang Pemuda Mataram.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTB mencatat peningkatan signifikan, di mana sebanyak 12.063 rekening baru aktif terdaftar hanya dalam kurun waktu dari awal tahun hingga pertengahan tahun ini.

IKLAN

Kepala OJK NTB, Rudi Sulistyo, mengatakan, akumulasi dana ratusan miliar tersebut menjadi bukti nyata bahwa kebiasaan menabung sejak dini mampu menjadi benteng kokoh untuk mencegah masyarakat jatuh ke jurang kemiskinan di masa depan.

“Uang ratusan miliar ini bukti adik-adik siap mandiri. Kita tumbuhkan kebiasaan ini agar masyarakat punya financial wellness atau kesejahteraan keuangan. Kalau kita tidak punya perencanaan keuangan, kita akan repot saat tua,” ujar Rudi, Jumat 28 Agustus 2026.

Ia menambahkan, program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) ini tidak hanya melatih anak-anak untuk menyimpan uang di bank. OJK mendorong para pelajar untuk mengerti rantai investasi masa depan. Mulai dari pasar modal, instrumen asuransi, hingga dana pensiun saat usia dewasa kelak.

IKLAN

Bayang-Bayang Pinjol Ilegal dan Judi Online Mengintai

Namun, di balik catatan manis angka tabungan Rp300 miliar tersebut, ancaman serius kejahatan keuangan digital masih nyata mengintai anak muda di NTB.

Wakil Gubernur NTB, Hj. Indah Dhamayanti Putri, membeberkan fakta terkait tingginya angka kredit macet di NTB yang kini menyentuh 6,5 persen akibat jeratan pinjaman online (pinjol) ilegal.

Ia menambahkan, kondisi ini makin mengkhawatirkan dengan data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang membongkar fakta bahwa lebih dari 103.000 anak dan remaja di Indonesia telah terpapar transaksi ilegal dan judi online.

“Zaman sekarang semua serba digital dan ada dalam genggaman smartphone. Mau beli barang tinggal klik, pesan makanan tinggal klik. Namun di balik kemudahan itu, ada pihak tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan anak-anak kita lewat pinjol ilegal dan judi online,”ungkap Indah.

Wagub memberikan peringatan keras kepada seluruh pelajar yang hadir agar tidak terjebak dalam ilusi kekayaan instan tanpa bekerja keras.

“Anak-anakku yang Ummi sayangi, jangan pernah tergiur. Jangan mudah tergoda mencoba hal yang tidak benar. Jangan pernah percaya pada tawaran mendapatkan uang cepat tanpa usaha,” imbaunya.

Dorong Perda Khusus dan Pemerataan hingga Pulau Sumbawa

Merespons maraknya fenomena jebakan finansial digital ini, Pemerintah Provinsi NTB tidak tinggal diam. Pemprov NTB saat ini terus memperkuat payung hukum lewat penyusunan regulasi daerah (Perda) tentang fasilitasi pencegahan dan penanggulangan pendanaan berbasis teknologi informasi secara ilegal.

Langkah ini diambil untuk memastikan masyarakat, khususnya generasi muda, terlindungi dari praktik culas penyedia jasa keuangan ilegal.

Wagub menekankan pentingnya menyiapkan SDM berkualitas untuk menyongsong Indonesia Emas 2045, di mana para pelajar hari ini akan memegang estafet kepemimpinan bangsa 19 tahun mendatang.

Ia juga meminta OJK dan perbankan tidak memusatkan gerakan literasi keuangan ini di Pulau Lombok saja, melainkan mengekspansi program hingga ke sekolah-sekolah di pelosok Pulau Sumbawa.

“Masa depan yang cemerlang tidak dibangun oleh generasi yang gampang menghamburkan uang. Kebiasaan kecil hari ini sedang menyiapkan masa depan NTB yang lebih besar. Program ini harus menyentuh setiap pelosok, baik di Lombok maupun Sumbawa,” tuturnya. (Japriani)

Artikel Terkait