Opini

Ketika “Tangki Iman Jemaah Sudah Penuh”

Ahmada Efendi – Ali Dachlan Center Mataram

Penulis pikir “tangki iman jamaah sudah penuh” karena mereka sudah diajak untuk selalu taat. Bahkan ada doktrin samiqna waatoqna, mendengar dan mentaati ajaran para kiyai. Dan ajaran ini selalu diulang-ulang setiap saat. Diulang-ulang bak mantra yang diucap untuk menolak berbagai gangguan luar.

Tetapi tahukah tangki apa yang sering kosong di masyarakat / jamaah? Tangki pemberdayaan sosial-ekonomi. Inilah yang hampir-hampir tidak terisi.

IKLAN

Pada saat yang sama tidak ada kepedulian serius pada masalah ini. Isi ceramah kiyai sering merupakan tema yang diulang-ulang. Penulis sendiri sejak balita sudah menjadi bagian dari pendengar yang baik. Sampai kini dewasa tidak ada yang berubah. Tema pengulangan itu….berulang-ulang.

Sementara tantangan sudah sangat berbeda. Dunia yang semakin “sempit” dan cepat berubah tentu saja memerlukan cara baru untuk menyentuh jamaah lewat berbagai macam ceramah keagamaan. Misalnya bagaimana sebuah ajaran dapat diterapkan agar jamaah dapat berproduksi, sehingga mereka bisa menjadi subyek yang dapat menghantarkan kesejahteraan hidupnya di dunia.

Mengajak jamaah untuk melepaskan diri dari kemiskinan, perbudakan sistem, membangun kemandirian dan “membebaskan” merupakan contoh-contoh garapan yang lebih relevan. Dari pada tema-tema nya hanya mengulang-ulang hal yang sama. Dengan demikian tema yang lalu yang sebahagian besar mengajak jamaah berimajinasi, saatnya sekarang diajak untuk melalukan. From imagination to do good something.

IKLAN

Dalam pengertian ini seorang kiyai (leader of opinion) bukan seorang insiyur, bukan seorang sarjana teknik, ekonom dan lain sebagainya. Melainkan seorang yang memang mau memperluas tema penyampaian kepada jamaah. Bahwa tema-tema berulang itu sudah diperdengarkan. Garapan berikutnya tentu tema yang baru dan lebih ke bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sehingga yang tadinya jamaah menjadi obyek bergeser perlahan menjadi subyek.

Bukankah membangun manusia harus membuat manusia itu mandiri tidak terus bergantungan? Jika mereka mandiri maka mereka akan semakin mampu diajak untuk melakukan gerakan membangun. Jika terus menerus bergantung sama dengan kemunduruan.

Bangga Memimpin Orang-orang Cerdas

Mestinya ada kebanggaan tersendiri ketika seorang kiyai memimpin orang-orang cerdas dan yang mampu menyelesaikan masalah dunianya secara mandiri. Bukan malah “ketakutan/kekhawatiran” ketika orang-orang yang dipimpinnya menjadi lebih mandiri, menjadi lebih kritis dan menjadi lebih sejahtera. Hanya dalam term melanggengkan kondisi jemaah pada posisi obyek saja dapat dipahami sikap demikian.

Oleh karenanya relasi antara Kiyai dan jamaah seyogyanya dibangun atas dasar kebersamaan, atau kemitraan. Pada posisi ini organisasi didesain dengan semangat gotong royong untuk membangun kemandirian bersama.

Adanya badan amal usaha merupakan contoh riil dari organisasi yang bertujuan membangun kemandirian. Inisiasi membangun amal usaha di berbagai tempat dari hasil iuran bersama atau dari bantuan pemerintah dapat diaplikasikan disini. Bagaimana pun kiyai dan jamaah tidak bisa hidup dalam kondisi keprihatinan, karena kefakiran lebih dekat kepada kekufuran. (*)

Artikel Terkait