Opini

Teori Konvergensi, World Cup 2026 dan Pariwisata Mendunia

Oleh: M. Ramadhani

Tulisan ini berawal dari cerita yang tersisa dalam benak penulis setelah menjalani ujian disertasi pada awal pekan lalu, 2 Juni 2026, di Universitas Brawijaya, Malang. Keluar dari ruang ujian, ada satu pertanyaan yang terus mengganggu pikiran. Pertanyaan itu sederhana, tetapi ternyata tidak mudah dijawab secara meyakinkan.

Salah satu profesor penguji meminta penulis menjelaskan dengan bahasa sendiri, tanpa membaca naskah: apa sebenarnya yang dimaksud dengan Teori Konvergensi? Setelah berusaha menjelaskan, lengkap dengan kurva dan grafik agar tampak ilmiah, penulis justru mendapat catatan bahwa penjelasan tersebut masih belum cukup meyakinkan, masih ragu-ragu, dan belum benar-benar “bersih”.

IKLAN

Ujian memang berakhir dengan rasa lega karena satu tahapan telah terlewati. Namun di sisi lain, muncul rasa penasaran: bagaimana menjelaskan Teori Konvergensi dengan cara yang lebih sederhana dan mudah dipahami?

Maklum, saat ini penulis tengah menyusun disertasi doktoral Ilmu Ekonomi berjudul Dampak Industri Pariwisata terhadap Konvergensi Pertumbuhan Ekonomi di Pulau Lombok, NTB. Teori konvergensi menjelaskan hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan antarwilayah. Suatu daerah dikatakan mengalami konvergensi ketika wilayah yang tertinggal, dengan pendapatan per kapita lebih rendah, mampu mengejar wilayah yang lebih maju dengan pendapatan yang lebih tinggi.

Dalam konteks penelitian tersebut, fokus kajian diarahkan pada pengaruh industri pariwisata. Namun karena penulis juga merupakan penikmat sepak bola, muncul pertanyaan lain: apakah Teori Konvergensi bisa digunakan untuk membaca fenomena Piala Dunia 2026? Jika bisa, mungkin analogi sepak bola akan membuat teori yang rumit itu terasa lebih mudah dipahami.

IKLAN

Teori Konvergensi dan Ketimpangan dalam Sepak Bola

Sepekan lagi, pesta sepak bola empat tahunan, World Cup 2026, akan digelar di tiga negara tuan rumah bersama: Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Edisi kali ini terasa berbeda karena jumlah peserta bertambah dari 32 menjadi 48 negara.

Penambahan 16 slot memunculkan banyak pertanyaan. Bukankah kompetisi akan semakin timpang? Bukankah tim-tim kecil hanya akan menjadi sasaran pesta gol negara-negara kuat seperti Brasil, Argentina, atau Jerman?

Di sinilah Teori Konvergensi menjadi menarik untuk digunakan sebagai alat analisis.

Dalam ekonomi, teori ini menyatakan bahwa negara-negara yang tertinggal tetapi memiliki struktur pembangunan yang baik cenderung tumbuh lebih cepat dibanding negara-negara maju. Dengan demikian, jarak di antara keduanya perlahan akan menyempit.

Jika diibaratkan dalam sepak bola, negara adalah tim nasional, sementara Produk Domestik Bruto (PDB) diasumsikan sebagai peringkat FIFA. Sebelum 2026, hanya tersedia 32 slot peserta. Asia hanya memperoleh 4,5 slot, sementara Afrika mendapat lima slot. Tim-tim yang berada di peringkat 50 hingga 70 dunia sangat sulit lolos dan akibatnya jarang memperoleh pengalaman menghadapi tim elite dunia.

Kini situasinya berubah. Asia memperoleh delapan slot, Afrika sembilan slot, dan CONCACAF enam slot. Artinya, negara-negara seperti Uzbekistan, Irak, Kongo, atau Panama memiliki peluang lebih besar tampil di panggung dunia dan menghadapi Jerman, Spanyol, maupun Brasil.

Fenomena ini serupa dengan konsep “transfer teknologi” dalam teori konvergensi. Tim kecil memperoleh kesempatan belajar langsung dari tim-tim besar. Seorang bek muda dari Tajikistan yang harus menjaga pemain kelas dunia selama 90 menit akan mendapatkan pengalaman yang sangat berharga.

Selain itu, keikutsertaan di Piala Dunia meningkatkan peluang investasi melalui sponsor, memperkuat federasi sepak bola nasional, dan menciptakan pengalaman kompetitif berlapis bagi para pemain muda yang nantinya menjadi veteran pada turnamen-turnamen berikutnya.

Lalu, apakah ketimpangan sepak bola dunia akan menyempit?

Jawabannya: ya, tetapi berlangsung perlahan.

Data historis menunjukkan hal tersebut. Ketika Piala Dunia diperluas dari 24 menjadi 32 peserta pada 1998, banyak pihak meragukan kemampuan negara-negara baru. Namun beberapa tahun kemudian lahir berbagai kejutan. Korea Selatan mencapai semifinal pada 2002, Senegal mengalahkan juara bertahan Prancis pada tahun yang sama, dan Kroasia bahkan mampu menjadi salah satu kekuatan utama dunia hingga meraih posisi ketiga pada 2018.

“Itulah yang disebut konvergensi.”

Ketika kesempatan berkompetisi semakin terbuka, maka peluang belajar dan berkembang juga meningkat. Jarak antara tim kuat dan tim lemah memang tidak hilang sepenuhnya, tetapi perlahan mengecil.

Tentu tim-tim elite tetap memiliki keunggulan berupa liga domestik yang kuat, pemain yang berkiprah di klub-klub besar Eropa, serta dukungan teknologi dan analisis data yang canggih. Dalam perspektif ekonomi neoklasik, hal ini identik dengan keunggulan modal, teknologi, kualitas tenaga kerja, dan stabilitas institusi.

Namun setidaknya, jurang skor yang sangat lebar akan semakin jarang terjadi. Jika dulu hasil 8-0 atau 7-0 sering muncul, kini kejutan berupa hasil imbang atau kemenangan tipis semakin mungkin terjadi.

Ekspansi Piala Dunia 2026 dapat dianalogikan sebagai “beasiswa” yang diberikan FIFA kepada 16 negara tambahan. Mungkin hasilnya belum langsung terlihat sekarang, tetapi dalam satu atau dua dekade ke depan, dunia bisa saja menyaksikan tim-tim yang saat ini dianggap lemah mampu menembus babak-babak penting. Bahkan bukan tidak mungkin salah satunya adalah Tim Nasional Indonesia.

Bagaimana Konvergensi Ekonomi NTB?

Setelah memahami konsep konvergensi melalui sepak bola, pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana kondisi konvergensi ekonomi di Nusa Tenggara Barat?

Jika Indonesia masih berjuang untuk menembus level elite sepak bola dunia, apakah ekonomi NTB sudah bergerak menuju cita-cita “Makmur Mendunia”?

Pelajaran dari sepak bola menunjukkan bahwa untuk mengejar ketertinggalan diperlukan investasi, penguatan sumber daya manusia, inovasi, teknologi, dan pemanfaatan sumber daya alam secara optimal. Dalam konteks NTB, proses tersebut identik dengan agenda industrialisasi dan pengembangan sektor-sektor produktif.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi NTB pada Triwulan I Tahun 2026 mencapai 13,64 persen secara tahunan. Angka tersebut menempatkan NTB sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua secara nasional setelah Maluku Utara.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan aktivitas industri pengolahan, pertambangan, sektor jasa, serta kontribusi industri pariwisata. Di sisi lain, sektor jasa menunjukkan pemulihan yang kuat. Jumlah tamu hotel pada Triwulan I 2026 mencapai 607 ribu orang atau meningkat 27,32 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah penumpang angkutan udara juga meningkat 21,28 persen menjadi 310.499 orang.

Data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat semakin bergerak luas dan tidak hanya bergantung pada pertambangan. Dalam jangka panjang, pariwisata, perdagangan, dan jasa harus tetap menjadi penyangga utama perekonomian daerah.

Temuan penelitian penulis menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi antarkabupaten/kota di Pulau Lombok mengarah pada proses konvergensi, dan industri pariwisata berperan sebagai faktor yang mempercepat proses tersebut.

Pembangunan pariwisata yang inklusif, didukung infrastruktur berkualitas, terbukti dapat menjadi strategi untuk mempercepat pemerataan pertumbuhan ekonomi. Namun keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh jumlah wisatawan atau pembangunan fisik semata, melainkan juga oleh distribusi manfaat ekonomi, keterhubungan antarwilayah, kualitas layanan, dan kemampuan daerah tertinggal menyerap nilai tambah dari aktivitas pariwisata.

Dengan demikian, pariwisata dapat menjadi kendaraan penting bagi NTB untuk melompat lebih cepat, mengejar ketertinggalan, mengurangi ketimpangan antarwilayah, sekaligus mewujudkan visi “Makmur Mendunia”.

Siapa Peraih Trofi World Cup?

Pada akhirnya, mungkin tidak terlalu penting siapa yang akan mengangkat trofi World Cup 2026. Yang lebih menarik adalah bagaimana turnamen tersebut membantu menjelaskan cara kerja Teori Konvergensi secara sederhana.

Jika sepanjang turnamen nanti semakin banyak kejutan terjadi, semakin banyak tim nonunggulan mampu menyulitkan negara-negara besar, maka itu bisa menjadi pertanda bahwa kesenjangan kekuatan sepak bola dunia sedang menyempit. Konvergensi sedang bekerja.

Dalam konteks pembangunan NTB, pelajaran yang sama berlaku. Jika industri pariwisata mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah ekonomi lokal, dan memperkecil ketimpangan antarwilayah, maka capaian tersebut jauh lebih substansial daripada sekadar meraih label atau “trofi” pariwisata mendunia.

Selamat menikmati pesta sepak bola dunia. Semoga banyak kejutan tercipta di lapangan hijau, dan semoga pula riset tentang konvergensi yang sedang penulis kerjakan segera tuntas dengan hasil yang baik. (*)

Ramadhani adalah penggemar sepak bola, ASN Pemerintah Kota Mataram, serta peserta PKN II Angkatan 13 BPSDMD NTB.

Artikel Terkait

Back to top button