Ketika Media Sosial Ikut Menentukan Keputusan Perawatan
Oleh: drg. Luh De Puspita Dewi, Sp.Ort., MH.
Media sosial telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi kesehatan. Jika dahulu seseorang harus berkonsultasi langsung dengan tenaga kesehatan untuk memahami suatu penyakit dan rencana perawatan. Sekarang, cukup membuka telepon genggam dalam hitungan detik, berbagai pengalaman pasien, foto sebelum dan sesudah perawatan, hasil rontgen, hingga beragam pendapat mengenai suatu tindakan medis dapat ditemukan dengan mudah.
Fenomena tersebut juga saya temui dalam lima tahun terakhir, saya mulai melihat perubahan yang cukup menarik dimana pasien datang sudah dengan menunjukkan tangkapan layar dari tik tok , instagram, thread dan lain.
Ada yang datang dengan rasa ingin tahu yang besar, ada yang ingin memastikan kembali informasi yang dibaca, tetapi ada pula yang justru datang dengan kebingungan bahkan kecemasan karena menerima begitu banyak pendapat dan komentar yang saling bertentangan.
Saya melihat perubahan ini patut diapresiasi karena sekarang masyarakat menjadi lebih peduli terhadap kesehatan, termasuk juga kesehatan gigi dan mulut. Lebih aktif mencari informasi, dan lebih aktif berdiskusi mengenai pilihan perawatan yang tersedia. Namun, di balik fenomena tersebut, ada yang perlu kita waspadai bersama.
Beberapa waktu lalu, saya membaca buku The Death of Expertise karya Tom Nichols. Salah satu pemikirannya yang menarik bagi saya adalah bahwa kemudahan memperoleh informasi tidak selalu diikuti oleh kemampuan untuk memahami informasi tersebut dengan utuh. Di era digital, hampir semua orang dapat mengakses berbagai informasi. Namun, banyaknya informasi yang dimiliki seseorang belum tentu selaras dengan keahliannya untuk menafsirkan informasi tersebut, terutama untuk menempatkan informasi dalam konteks yang tepat.
Saya melihat gambaran tersebut dekat dengan pengalaman yang saya temui dalam praktik sehari hari. Media sosial telah membuat masyarakat lebih mudah mencari informasi dan belajar tentang kesehatan, tetapi keputusan klinis tetap tidak dapat disimpulkan dari potongan-potongan informasi media sosial.
Informasi yang beredar di media sosial seringkali hanya menampilkan sebagian kecil dari suatu kasus. Sebuah foto gigi, hasil rontgen, atau pengalaman seseorang belum tentu mampu menggambarkan keseluruhan kondisi klinis pasien. Padahal dalam praktik ortodonti, keputusan perawatan tidak pernah didasarkan hanya pada satu foto atau satu hasil radiografi. Dokter juga mempertimbangkan hubungan rahang, kondisi jaringan penyangga gigi, fungsi pengunyahan, estetika wajah, usia pasien, hingga tujuan perawatan yang telah disepakati bersama.
Persoalan muncul ketika informasi yang diperoleh dari media sosial mulai menggantikan proses konsultasi. Tidak jarang pasien memperoleh komentar atau pendapat dari orang-orang yang tidak pernah memeriksa kondisi mereka secara langsung. Akibatnya, muncul keraguan terhadap diagnosis, rencana perawatan, bahkan terhadap dokter yang sedang merawatnya. Padahal setiap keputusan klinis dibuat setelah melalui proses pemeriksaan yang menyeluruh dan mempertimbangkan berbagai faktor yang seringkali tidak terlihat dalam sebuah unggahan media sosial.
Fenomena ini ternyata juga telah menjadi perhatian berbagai penelitian. Sejumlah studi menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dapat mempengaruhi komunikasi dan tingkat kepercayaan antara pasien dan tenaga kesehatan. Penelitian pada bidang ortodonti juga menemukan bahwa internet dan media sosial kini menjadi salah satu sumber utama informasi mengenai perawatan gigi. Di satu sisi, kondisi ini meningkatkan literasi kesehatan, tetapi di sisi lain informasi yang tidak lengkap dapat membentuk persepsi dan ekspektasi yang kurang sesuai dengan kondisi klinis masing-masing pasien.
Hal yang perlu dipahami adalah setiap pasien merupakan individu yang unik. Misalnya, dua orang dengan hasil rontgen yang tampak serupa belum tentu memerlukan rencana perawatan yang sama. Faktor biologis, kondisi jaringan pendukung gigi, usia, kebiasaan, kondisi kesehatan umum, hingga harapan pasien menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses pengambilan keputusan. Karena itu, menyamakan kasus sendiri dengan pengalaman orang lain di media sosial seringkali justru menimbulkan persepsi yang keliru.
Di sisi lain, derasnya arus informasi juga dapat memunculkan kecemasan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pencarian informasi kesehatan melalui internet dapat mempengaruhi hubungan dokter dan pasien, terutama ketika informasi tersebut tidak diklarifikasi kembali melalui konsultasi profesional. Dalam situasi seperti ini, komunikasi menjadi kunci. Informasi yang ditemukan di media sosial tidak perlu diabaikan, tetapi juga tidak seharusnya langsung dijadikan dasar dalam mengambil keputusan medis tanpa diskusi dengan dokter yang merawat.
Berdasarkan hasil-hasil riset tersebut, menurut hemat saya, media sosial baiknya digunakan sebagai pintu masuk untuk belajar, bukan sebagai tempat untuk menetapkan diagnosis atau menentukan rencana perawatan.
Ketika menemukan informasi yang menimbulkan pertanyaan atau keraguan, langkah terbaik untuk pasien adalah mendiskusikannya secara terbuka dengan dokter yang merawat. Apabila masih belum yakin, pasien dapat mencari second opinion dari dokter lain karena hal tersebut merupakan hak setiap pasien.
Kepercayaan kepada dokter yang merawat bukan berarti menerima seluruh keputusan dokter tanpa bertanya karena kepercayaan justru dibangun melalui komunikasi yang terbuka. Pasien berhak bertanya, memahami alasan di balik setiap keputusan, bahkan menyampaikan dengan baik mengenai kekhawatiran yang dimiliki.
Sebaliknya, dokter memiliki tanggung jawab untuk memberikan penjelasan yang jujur, ilmiah, dan mudah dipahami. Hubungan seperti inilah yang menjadi fondasi keberhasilan perawatan ortodonti yang merupakan perawatan jangka panjang dan berkesinambungan.
Tantangan terbesar di era media sosial bukan lagi bagaimana memperoleh informasi, melainkan bagaimana menyaring informasi tersebut dengan bijaksana. Di media sosial, semua orang dapat memberikan komentar mengenai suatu perawatan, karena hal tersebut merupakan bagian dari kebebasan berbagi informasi. Namun, tidak semua orang memiliki kompetensi untuk menegakkan diagnosis dan menentukan keputusan perawatan. Tantangan bagi dokter juga bukan hanya menegakkan diagnosis, tetapi juga membantu pasien untuk memilah informasi.
Sebagai penutup, saya ingin mengajak masyarakat untuk memanfaatkan media sosial dengan lebih bijak. Jadikan media sosial sebagai tempat untuk belajar dan meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya kesehatan gigi dan mulut, bukan sebagai pengganti pemeriksaan klinis. Pilihlah sumber informasi yang kredibel, diskusikan setiap keraguan dengan dokter yang merawat, dan jangan terburu-buru menyamakan kondisi diri dengan pengalaman orang lain.
Dengan demikian, bisa dipahami bahwa keberhasilan suatu perawatan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau banyaknya informasi yang dimiliki, tetapi juga oleh komunikasi yang baik, ekspektasi yang realistis, serta hubungan saling percaya antara dokter dan pasien. (*)




