Demo Tolak MBG di Kantor Gubernur NTB Ricuh, Mahasiswa Terluka
Mataram (NTBSatu) – Aksi demonstrasi menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG) di depan Kantor Gubernur NTB berujung ricuh, pada Selasa malam, 23 Juni 2026.
Bentrokan antara massa aksi dan polisi menyebabkan seorang mahasiswa mengalami luka pada bagian mulut.
Puluhan mahasiswa yang didominasi kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Mataram bersama gabungan mahasiswa dari sejumlah kampus tetap bertahan di depan gerbang Kantor Gubernur NTB.
Mereka menegaskan tidak akan membubarkan aksi sebelum Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, atau Wakil Gubernur NTB, Indah Dhamayanti Putri, menemui mereka secara langsung.
Pantauan NTBSatu di lokasi menunjukkan situasi mulai memanas saat massa membakar ban di depan pintu masuk Kantor Gubernur NTB.
Polisi kemudian bergerak mendorong massa menjauh dari gerbang. Aksi saling dorong pun berubah menjadi bentrokan antara mahasiswa dan polisi.
Usai bentrokan, salah seorang perwakilan massa aksi memperlihatkan kondisi rekannya yang mengalami luka hingga mengeluarkan darah.
Ia menyebut korban merupakan Ketua Cabang PMII Lombok Barat.
“Lihat ini! Ini adalah darah perjuangan dari kami. Mahasiswa kami sudah berdarah-darah. Komunikasikan dengan Sekda NTB,” teriaknya melalui pengeras suara.
Korban kemudian mengambil pengeras suara dan mengaku tidak mengetahui identitas orang yang memukulnya. Namun, ia menyebut lebih dari satu orang terlibat dalam insiden tersebut.
“Saya enggak tahu pelakunya. Yang penting lima orang tadi di sebelah kiri,” ucapnya di hadapan massa aksi.
Perwakilan massa aksi lainnya meminta korban menyebut identitas pelaku agar mereka dapat melaporkannya ke Polres. Namun, korban kembali menegaskan dirinya tidak mengetahui pelaku yang memukulnya.
Tanggapan Ketua PMII Cabang Mataram
Ketua Umum PMII Cabang Mataram, Lalu Rizki Hidayat mengatakan, massa aksi membawa tujuh tuntutan dalam demonstrasi tersebut. Yakni mendesak pemerintah menegakkan amanat UUD 1945 Pasal 33 secara berdaulat, mencabut Undang-Undang Polri dan Undang-Undang TNI, serta mengembalikan supremasi sipil.
Massa juga menuntut pemerintah meningkatkan kesejahteraan guru dan tenaga kesehatan, mereset program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta membubarkan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang mereka nilai sarat praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
“Selain itu, kami juga mendesak pemerintah mengembalikan kepercayaan publik, melakukan reshuffle dan efisiensi struktur kabinet sesuai kompetensi dan otoritas, serta segera mengesahkan RUU Perampasan Aset,” katanya.
Meski bentrokan sempat terjadi, massa tetap bertahan di lokasi. Mereka terus melanjutkan aksi sambil menunggu Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal atau Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri menemui mereka.
Hingga pukul 19.30 Wita, demonstrasi masih berlangsung. Massa belum membubarkan aksi karena Gubernur maupun Wakil Gubernur belum menemui mereka.
Beberapa saat kemudian, Sekretaris Daerah NTB, Abul Chair, menemui massa aksi. Dalam dialog tersebut, ia memastikan Pemprov NTB akan bertanggung jawab atas mahasiswa yang mengalami luka.
“Jika dibutuhkan untuk kami tanggung jawab. Kami akan tanggung jawab,” tegasnya.
Setelah berdialog dengan Sekda NTB, pada pukul 20.10 Wita, massa aksi akhirnya membubarkan diri secara tertib. (*)




