Pemprov NTB Optimis Capai Swasembada Pangan, Produksi Padi dan Jagung Dinilai Stabil
Mataram (NTBSatu) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB, menyatakan optimisme mencapai swasembada pangan di daerah seiring stabilnya produksi komoditas utama seperti padi dan jagung di seluruh kabupaten/kota.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB, Lalu Mirza Amir Hamzah menyebut, tekanan inflasi sektor pertanian kini relatif menurun. Bahkan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat beberapa komoditas hortikultura seperti cabai justru mengalami deflasi.
“Sekarang sudah jarang yang inflasi. Paling komoditi horti. Bahkan kemarin, laporan BPS 2026 cabai yang biasanya inflasi, justru deflasi,” jelasnya kepada NTBSatu kemarin.
Ia menjelaskan, NTB memiliki sentra produksi hortikultura di sejumlah wilayah yang pelaku usaha sebut sebagai “champion”, termasuk Lombok Barat sebagai salah satu pusat komoditas tersebut.
Terkait program nasional lumbung pangan, Mirza menegaskan NTB masuk dalam skema tersebut dan mendapat dukungan berbagai sektor, mulai dari Kementerian PUPR hingga Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
“Banyak dukungan, mulai perbaikan infrastruktur, irigasi perpompaan, optimasi lahan, sampai pembangunan bendungan dan embung. Semua lintas sektor harus terlibat agar swasembada bisa tercapai,” jelasnya.
Menurutnya, saat ini, hampir seluruh kabupaten/kota di NTB menanam padi, sementara daerah dengan cakupan lahan besar seperti Lombok Tengah, Lombok Timur, dan Sumbawa menjadi penopang utama produksi pangan.
Ia juga menyoroti kebijakan pemerintah pusat yang menetapkan harga gabah Rp6.500 per kilogram untuk Gabah Kering Panen (GKP), yang memberi kepastian dan keuntungan bagi petani.
“Petani kita sekarang lebih terjamin karena ada stabilisasi harga. Ini penting untuk menjaga keseimbangan dari hulu sampai hilir,” katanya.
Selain itu, Perum Bulog berperan sebagai off-taker untuk menyerap hasil panen petani. Bulog juga menambah kapasitas penyimpanan dengan menyewa gudang milik masyarakat.
“Bulog menyerap hasil panen dan menambah gudang, termasuk menyewa gudang milik masyarakat,” ujarnya.
Hama dan Cuaca Masih Jadi Tantangan
Meski demikian, ia mengakui sejumlah tantangan masih muncul di sektor pertanian NTB, terutama hama penyakit tanaman dan perubahan cuaca. Pemerintah menyiagakan Petugas Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) serta Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) untuk mendampingi petani di lapangan.
“Kalau budidaya, hama dan cuaca jadi tantangan. Tapi sudah ada POPT dan PPL yang membantu pengendalian serta pendampingan,” jelasnya.
Terkait proyeksi panen raya di sejumlah Kabupaten/Kota, ia menegaskan perhitungan produksi mengacu pada data BPS berbasis Kerangka Sampel Area (KSA) yang menggunakan pemantauan satelit untuk melihat potensi produksi.
Ia juga menegaskan, pemerintah optimis swasembada pangan di NTB tetap terjaga. “Jadi kita optimis NTB tetap swasembada pangan,” katanya. (*)




