PariwisataPemerintahan

Destinasi Kelas Dunia Gili Meno Krisis Air, Pemprov NTB Klaim Wisatawan Masih Ramai

Mataram (NTBSatu) – Krisis air bersih di Gili Meno, Desa Gili Indah, Kabupaten Lombok Utara (KLU) masih menjadi persoalan. Catatannya, krisis air di salah satu pariwisata kelas dunia yang ada di NTB itu sudah berlangsung tiga tahun. Warga sekitar kebanyakan mengkonsumsi air payau.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTB, Lalu Ahmad Nur Aulia tak menampik kondisi tersebut. Ia mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Pemerintah KLU untuk mengatasi persoalan tersebut. Pasalnya, masalah krisis air merupakan kewenangan pemerintah kabupaten.

“Kalau mengenai air ini, tentunya kita harus koordinasi dengan pemerintah kabupaten. Karena air ini sudah merupakan ranah dari kabupaten,” kata Aulia, Senin, 25 Mei 2026.

IKLAN

Di sisi lain, ia menyadari kebutuhan air bersih merupakan salah satu kebutuhan dasar. Karenanya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB sendiri telah membentuk Satuan Tugas (Satgas). Fungsinya tak hanya mengatasi persoalan air bersih, tetapi masalah sengketa lahan juga soal sampah.

“Masalah status lahan, utilitas lingkungan, infrastruktur dasar seperti air dan sampah, itu semua menjadi bagian yang harus diselesaikan,” ujarnya.

Menurutnya, Satgas Gili yang pemerintah bentuk sebenarnya telah melakukan pemetaan persoalan. Namun, tindak lanjut dari hasil pemetaan itu masih membutuhkan dukungan anggaran dan koordinasi lintas pihak.

IKLAN

“Bukan tidak ada hasilnya. Mapping (pemetaan, red) sudah ada, cuma untuk tindak lanjut tentu membutuhkan supporting (dukungan, red) pembiayaan dan sebagainya,” katanya.

Dukung Pelayanan Wisatawan

Selama ini, warga Gili Meno masih mengandalkan pembelian air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun dan dinilai menjadi ancaman bagi keberlanjutan sektor pariwisata di kawasan tersebut.

Ia mengakui, kebutuhan air bersih menjadi salah satu infrastruktur dasar penting dalam mendukung pelayanan wisatawan, terlebih saat memasuki musim kunjungan tinggi atau high season.

“Harapannya tentu ada pemenuhan air berkelanjutan agar pelayanan wisatawan bisa terus berjalan dan berkembang ke depan,” jelasnya.

Meski demikian, ia menyebut, sejauh ini aktivitas wisata di Gili Meno masih berjalan. Sejumlah fasilitas wisata tetap beroperasi meski pasokan air bersih terbatas.

“Di sana sudah hadir beberapa fasilitas-fasilitas untuk wisata dan selama ini beroperasional. Tetapi tentunya ini punya harapan juga bisa dikembangkan dan kunjungan wisatawan bertambah. Maka, kebutuhan air itu semakin tinggi,” jelasnya.

Wacana penyaluran air melalui pipa bawah laut juga sempat menjadi tuntutan masyarakat. Namun, pemerintah menilai proses tersebut tidak bisa secara instan karena memerlukan kajian teknis dan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk PDAM dan Pemerintah Kabupaten Lombok Utara.

“Tidak semudah mengambil selang lalu dipasang. Semua ada teknisnya yang harus dikoordinasikan,” katanya.

Namun, warga mulai menyuarakan protes karena berharap pemerintah segera menghadirkan solusi permanen. Apalagi, persoalan air bersih di Gili Meno sudah berlangsung sekitar tiga tahun.

“Harapan adanya air secara berkelanjutan memang menjadi kebutuhan sebuah destinasi wisata,” ujarnya. (*)

Muhammad Yamin

Jurnalis NTBSatu

Artikel Terkait

Back to top button