Mengembalikan Pusat Gravitasi Sumbawa
Rusli Cahyadi, Ph.D. – Antropolog, Peneliti Senior Pusat Riset Kependudukan, BRIN dan Staf Pengajar Departemen Antropologi FISIP UI
Kebangkitan Tradisi
Kebangkitan adat dan tradisi di Sumbawa belakangan ini memperlihatkan sesuatu yang menarik. Dari Melala hingga Barapan Kebo, dari dihidupkannya kembali seni wicara seperti lawas hingga seni hias, dari festival kampung sampai perayaan yang melibatkan lintas komunitas, tampak ada gairah baru untuk menengok kembali sumber-sumber kebudayaan lokal. Tradisi yang selama ini mungkin dianggap sebagai sisa masa lalu, kini muncul kembali sebagai ruang hidup yang ramai, hangat, dan penuh makna.
Melala, misalnya, bukan sekadar pembuatan minyak tradisional. Ia adalah peristiwa sosial. Di dalamnya ada pengetahuan tentang tubuh, tumbuhan, doa, pantangan, keahlian, dan ingatan orang-orang tua. Ada bahan-bahan yang harus dikenali, cara meramu yang harus diwariskan, dan suasana kebersamaan yang tidak bisa digantikan oleh produksi massal. Ketika Melala dirayakan, yang hidup bukan hanya minyaknya, tetapi juga hubungan antarmanusia di sekitarnya.
Hal yang sama dapat dilihat dalam Barapan Kebo. Ia bukan semata atraksi, bukan hanya tontonan ketangkasan kerbau dan joki di sawah berlumpur. Di dalamnya ada hubungan lama antara manusia, hewan, tanah, air, musim, keberanian, reputasi, dan keramaian kampung. Ia mengingatkan kita bahwa sawah bukan hanya ruang produksi pangan, tetapi juga ruang sosial, ruang permainan, ruang gengsi, dan ruang perjumpaan.
Demikian pula lawas. Seni wicara ini bukan sekadar bentuk sastra lisan yang indah untuk dipentaskan. Lawas adalah kecerdasan berbahasa orang Sumbawa. Di dalamnya ada sindiran, rayuan, nasihat, humor, ingatan, dan cara orang menyampaikan sesuatu tanpa harus selalu berteriak. Ketika lawas kembali dihidupkan, yang dipulihkan bukan hanya kata-kata lama, tetapi juga kemampuan masyarakat untuk berbicara secara halus, puitis, dan bermartabat.
Kebangkitan seni hias, busana adat, motif, upacara, kuliner, musik, dan berbagai tradisi lain juga perlu dibaca dalam kerangka yang sama. Semua itu bukan sekadar ornamen. Ia adalah cara masyarakat Sumbawa menata kembali hubungan dengan masa lalu, dengan sesama, dengan tanah tempat hidup, dan dengan masa depan yang ingin dibangun.
Tradisi Sebagai Infrastruktur Sosial
Dalam tulisan-tulisan antropolog Peter R. Goethals tentang Rarak, sebuah desa di Sumbawa Barat pada 1950-an, terlihat bahwa kehidupan masyarakat Sumbawa dahulu digerakkan oleh banyak bentuk keramaian. Ada keramaian pasca panen, perkawinan, rebana, lawas, kerja bersama, kunjungan antarkeluarga, dapur pesta, dan pertemuan di serambi rumah. Semua itu membentuk infrastruktur sosial masyarakat. Orang bertemu, berbicara, saling menilai, saling membantu, dan saling mengingat.
Goethals melihat kalender itu bekerja sampai ke detail hariannya. Di musim kemarau, begitu padi tersimpan di lumbung, warga desa punya waktu untuk membangun rumah, menikahkan anak, menyunatkan anak, dan menggelar hajatan. Di musim hujan, keluarga-keluarga pindah ke gubuk ladang dan waktu sosial menyempit. Zakat panen dibayarkan tepat ketika padi dipanen, bukan pada tanggal yang ditetapkan kalender lain. Lawas dan musyawarah pun hidup di masa senggang itu. Kemampuan berbicara secara halus, puitis, dan bermartabat yang disebut di atas bukan kebetulan. Ia lahir dari kalender agraris itu sendiri.
Dengan kata lain, tradisi bukan hanya adat yang dibekukan dalam seremoni. Tradisi adalah cara masyarakat membuat dirinya tetap terhubung. Ia mengatur ritme hidup: kapan bekerja, kapan merayakan, kapan berkumpul, kapan memberi, kapan menerima, kapan mendengar orang tua, dan kapan memberi ruang bagi anak muda untuk tampil.
Di sinilah pentingnya membaca kebangkitan tradisi Sumbawa hari ini secara lebih dalam. Jangan sampai Melala, Barapan Kebo, Festival Lawas, dan berbagai kegiatan adat lainnya hanya diperlakukan sebagai agenda pariwisata atau konten promosi daerah. Pariwisata tentu penting. Ekonomi kreatif juga penting. Tetapi tradisi tidak boleh kehilangan pusatnya, yaitu komunitas.
Jika Melala menghasilkan minyak yang bisa dijual, bagus. Jika Barapan Kebo menarik pengunjung, bagus. Jika Festival Lawas menjadi agenda wisata, bagus. Tetapi pusatnya harus tetap komunitas. Begitu pusatnya bergeser menjadi tontonan luar, tradisi mudah menjadi dekorasi.
Tradisi yang hanya menjadi dekorasi biasanya sibuk di panggung, tetapi sepi di kampung. Ia tampil indah dalam seremoni, tetapi tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia dipakai untuk menyambut tamu, tetapi tidak lagi menjadi cara masyarakat menyambut dirinya sendiri. Inilah risiko ketika tradisi terlalu cepat dibawa keluar sebelum diperkuat kembali di dalam.
Kalender Komunitas, Kalender Komoditas
Namun, ada satu hal yang lebih mendasar. Tradisi hanya dapat hidup jika basis penghidupan masyarakat masih menyediakan waktu, ruang, dan relasi sosial untuknya. Dalam masyarakat agraris seperti Sumbawa, tradisi mengikuti ritme penghidupan itu sendiri. Perkawinan datang setelah hasil panen tersedia. Barapan Kebo datang setelah sawah berlumpur. Pesta datang ketika pangan cukup. Lawas hidup ketika orang punya waktu senggang untuk berkumpul.
Dengan kata lain, tradisi bukan hanya soal simbol. Tradisi adalah anak dari kalender penghidupan.
Karena itu, perubahan livelihood masyarakat Sumbawa hari ini perlu dibaca secara kritis. Sebagian warga mulai terlibat dalam produksi yang terutama diarahkan untuk memenuhi permintaan pasar dari luar: penanaman jagung, pengusahaan kebun kopi, penangkapan ikan dalam rantai pembeli besar, hingga tambang ilegal yang menawarkan uang cepat. Semua itu tentu tidak bisa dinilai secara hitam putih. Orang membutuhkan penghasilan. Keluarga harus hidup. Anak harus sekolah. Rumah harus dibangun. Utang harus dibayar.
Tetapi masalahnya muncul ketika seluruh ritme hidup masyarakat makin didikte oleh permintaan dari luar. Waktu kampung tidak lagi terutama ditentukan oleh musim, panen, keluarga, dan keramaian lokal, tetapi oleh harga komoditas, tengkulak, pembeli, jadwal pengiriman, kebutuhan uang tunai, dan fluktuasi pasar. Di titik ini terjadi pergeseran dari kalender komunitas ke kalender komoditas.
Kalender komunitas melahirkan keramaian: tanam, panen, pesta, perkawinan, barapan, lawas, gotong royong, nimung, ritual, dan saling kunjung. Kalender komoditas melahirkan tekanan: mengejar musim tanam jagung, mengejar harga, mengejar panen, mengejar setoran, mengejar pembeli, mengejar utang, atau mengejar kesempatan tambang.
Dalam kalender komunitas, waktu senggang adalah bagian dari hidup sosial. Dalam kalender komoditas, waktu senggang sering dianggap tidak produktif.
Namun kalender komunitas ini sendiri tidak pernah beku. Goethals mencatat Rarak tahun 1950-an sudah berubah: tenaga kerja mulai bermigrasi musiman ke kota, warga desa mulai berpartai menjelang Pemilu 1955, lahan mulai menyempit karena penduduk bertambah. Kalender komunitas selalu bergerak. Yang membedakan hari ini bukan soal berubah atau tidak. Yang membedakan adalah siapa yang masih memegang kendali atas perubahan itu: warga desa sendiri, atau pasar dari luar yang tidak bisa diajak berunding.
Jangan Sampai Menjadi Panggung Tanpa Akar
Di titik inilah metafora “pusat gravitasi” menjadi relevan. Setiap tradisi punya pusat yang menariknya tetap bermakna, yaitu komunitas yang merawatnya sehari-hari. Begitu pusat itu bergeser ke luar, tradisi kehilangan gaya tariknya sendiri dan mulai mengorbit di sekitar kepentingan pihak lain.
Di sinilah letak kritik yang perlu kita ajukan. Tidak cukup menghidupkan tradisi tanpa mempertahankan ritme penghidupan yang memungkinkan tradisi itu hidup. Jika basis sosial-ekonomi masyarakat makin tercerabut dari ritme lokalnya, tradisi memang masih bisa tampil sebagai festival. Tetapi ia berisiko kehilangan kedudukannya sebagai ritme kehidupan.
Barapan Kebo, misalnya, kuat kalau ia masih terhubung dengan sawah, musim, petani, kerbau, lumpur, dan kebanggaan agraris. Kalau sawah menyusut, kerbau hilang, dan anak muda lebih mengenal tambang atau kerja komoditas daripada musim, Barapan Kebo bisa tetap bertahan sebagai tontonan, tetapi kehilangan kedalaman sosialnya.
Melala juga demikian. Ia hidup jika orang masih punya hubungan dengan tanaman, hutan, tubuh, doa, orang tua, dan pengetahuan lokal. Kalau semua bahan menjadi sekadar bahan baku komersial, dan prosesnya dipercepat demi pasar, Melala bisa berubah menjadi produk herbal biasa. Namanya lokal, tetapi logikanya sudah sepenuhnya pasar.
Lawas pun sama. Ia butuh waktu duduk, mendengar, membalas, bermain kata, dan relasi sosial yang cukup rapat. Kalau kehidupan dipecah oleh kerja komoditas yang individualistik dan serba cepat, lawas bisa dipentaskan di festival, tetapi makin jarang hidup dalam pergaulan.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya: apakah tradisi Sumbawa masih ada? Pertanyaan yang lebih tajam adalah: apakah tradisi itu masih mengatur hidup, atau hanya tampil ketika ada anggaran acara?
Orientasi Ke Dalam
Di sinilah gagasan tentang orientasi ke dalam menjadi penting. Orientasi ke dalam bukan berarti menolak pasar, menolak negara, atau menutup diri dari dunia luar. Sumbawa tentu tetap membutuhkan perdagangan, pendidikan, investasi, teknologi, dan hubungan yang luas. Tetapi masyarakat Sumbawa juga perlu mempertahankan kemampuan untuk menentukan ritme hidupnya sendiri.
Pasar boleh masuk, tetapi jangan sampai seluruh kalender sosial diserahkan kepada pasar. Pariwisata boleh berkembang, tetapi jangan sampai tradisi hanya hidup ketika ada wisatawan. Pemerintah boleh membuat festival, tetapi jangan sampai kampung hanya menjadi latar panggung. Produk lokal boleh dijual, tetapi jangan sampai pengetahuan lokal terputus dari komunitas yang melahirkannya.
Karena itu, kebangkitan tradisi Sumbawa perlu diarahkan untuk mengembalikan orientasi penghidupan ke dalam jaringan sosial Sumbawa sendiri. Artinya, tradisi tidak hanya dipandang sebagai identitas untuk ditunjukkan kepada orang luar, tetapi sebagai energi untuk memperkuat hubungan di dalam masyarakat.
Melala dapat menjadi ruang belajar lintas generasi. Anak muda perlu tahu bahan, proses, cerita, dan nilai yang terkandung di dalamnya. Barapan Kebo dapat menjadi ruang memperkuat hubungan antara petani, pemilik ternak, pemuda-pemudi, kampung, dan sawah. Lawas dapat menjadi ruang menghidupkan kembali bahasa Sumbawa, bukan hanya dalam lomba, tetapi juga dalam percakapan, pendidikan, dan pergaulan sehari-hari. Seni hias dapat menjadi ruang ekonomi lokal yang tetap berakar pada pengetahuan perempuan, perajin, keluarga, dan komunitas.
Menjaga kalender komunitas ini bukan sekadar slogan. Ia butuh pilihan yang sengaja berpihak pada ritme lokal. Festival boleh dijadwalkan, tetapi ikuti musim tanam dan musim panen, jangan sebaliknya. Investasi boleh masuk, tetapi jangan sampai sawah dan padang penggembalaan kerbau, tempat Barapan Kebo hidup, ikut tergusur. Lawas boleh diajarkan di sekolah, tetapi jangan hanya untuk lomba tahunan, ajarkan juga untuk percakapan sehari-hari. Koperasi dan sanggar milik warga boleh diberi insentif, asal Melala tetap dikelola oleh komunitasnya sendiri, bukan oleh event organizer dari luar. Tanpa pilihan-pilihan seperti ini, orientasi ke dalam tinggal menjadi imbauan.
Dengan cara itu, tradisi tidak berhenti sebagai nostalgia. Ia menjadi sumber orientasi. Di tengah negara yang sering terasa jauh, pasar yang cepat berubah, tambang dan investasi yang membawa peluang sekaligus kegelisahan, pendidikan yang melahirkan generasi baru, serta politik identitas yang kadang membuat masyarakat terbelah, tradisi dapat menjadi tempat kembali. Bukan untuk mundur ke masa lalu, tetapi untuk menemukan pegangan dalam menghadapi masa depan.
Sumbawa tidak perlu menolak dunia luar. Tetapi Sumbawa juga tidak harus selalu menunggu pengakuan dari luar untuk merasa berharga. Kekuatan Sumbawa justru dapat tumbuh ketika masyarakatnya kembali merawat simpul-simpul hidupnya sendiri: bahasa, adat, tanah, keramaian, pangan, seni, agama, keluarga, dan kampung.
Tradisi-tradisi itu menciptakan ruang perjumpaan, transmisi pengetahuan, ekonomi lokal, kebanggaan bahasa, dan orientasi penghidupan yang lebih inward. Dalam pengertian ini, tradisi bukan pelarian dari modernitas, tetapi cara masyarakat Sumbawa menyusun kembali pusat gravitasinya sendiri. (*)




