Opini

Filosofi Mie Nyemek dalam Marketing

Oleh: Adi Prayuda – Kepala Biro Humas, Kerja Sama, dan Alumni UNIZAR

Kadang hal yang paling bermakna, justru lahir dari hal yang paling sederhana. Bukan di ruang kelas, bukan juga di ruang pelatihan, tapi di sebuah kafe kopi di Jalan Selaparang, Mataram. Dari sebuah menu yang tidak ada di dalam daftar menu.

Saya sebenarnya hanya ingin menikmati makanan yang sederhana, yang belakangan ini sangat jarang saya makan: Mie. Pilihan yang tersedia di daftar menu hanya dua jenis mie: mie goreng atau mie kuah.

IKLAN

Entah mengapa, pada saat itu, pikiran saya justru melayang ke Yogyakarta. Saya teringat semangkuk mie nyemek yang pernah saya nikmati beberapa waktu lalu. Mie yang tidak sepenuhnya goreng, tetapi juga tidak benar-benar berkuah. Kuahnya hanya sedikit, cukup untuk membuat bumbu tetap melekat di setiap helai mie.

Saya pun memberanikan diri bertanya kepada kasir.

“Apakah bisa dibuatkan mie nyemek?”

IKLAN

Pertanyaan itu tidak langsung dijawab. Sang kasir masuk sebentar ke dapur untuk mengonfirmasi kepada bagian yang memasak. Tidak lama kemudian ia kembali dengan sebuah senyuman.

“Bisa, Pak.”

Padahal menu itu tidak ada di daftar.

Beberapa menit kemudian semangkuk mie nyemek tersaji di hadapan saya. Rasanya sederhana, tetapi istimewa. Bumbunya terasa lebih kaya karena tidak tenggelam dalam kuah yang berlimpah, tetapi juga tidak kering seperti mie goreng. Hangatnya pas. Gurihnya pas. Semuanya terasa secukupnya.

Yang membuat saya menikmati sore itu bukan hanya rasa mienya, melainkan sesuatu yang lebih dalam. Ada relasi yang lentur antara konsumen dan produsen. Saya meminta sesuatu yang tidak tersedia di menu. Mereka tidak langsung menolak hanya karena prosedur. Mereka mendengarkan, mempertimbangkan, lalu berusaha memenuhi permintaan selama masih memungkinkan.

Saat itulah saya berpikir, mungkin semangkuk mie nyemek sedang mengajarkan sesuatu tentang pemasaran.

Sebagai seorang penekun meditasi yang saya namakan Jeda, sekaligus dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Al-Azhar, saya banyak merenungkan bagaimana praktik pemasaran hari ini berkembang. Dalam buku yang saya tulis, Mindful Marketing: Etika, Empati, dan Keberlanjutan dalam Bisnis Online, saya mencoba menawarkan cara pandang bahwa pemasaran bukan semata-mata seni menjual, melainkan seni membangun hubungan yang memberi manfaat bagi semua pihak.

Sayangnya, praktik pemasaran saat ini sering bergerak ke dua kutub yang berlawanan.

Di satu sisi, ada pemasaran yang terlalu “berkuah”. Promosi hadir di mana-mana. Notifikasi terus bermunculan. Diskon seolah tidak pernah berhenti. Setiap percakapan berubah menjadi ajakan membeli. Konsumen memang melihat produk, tetapi perlahan merasa lelah karena terus-menerus menjadi sasaran penjualan.

Di sisi lain, ada pemasaran yang terlalu “kering”. Pelaku usaha memiliki produk yang baik, pelayanan yang tulus, bahkan kualitas yang layak dibanggakan. Namun, mereka hampir tidak pernah bercerita tentang usahanya. Mereka berharap kualitas akan berbicara sendiri. Padahal, tanpa komunikasi, banyak nilai baik yang tidak pernah sampai kepada calon pelanggan.

Saya membayangkan pemasaran yang lebih sehat justru seperti mie nyemek. Komunikasi tetap hadir, tetapi tidak membanjiri. Promosi tetap dilakukan, tetapi tidak memaksa. Produk tetap diperkenalkan, tetapi tidak mendominasi seluruh ruang percakapan.

Dalam ilmu pemasaran, pendekatan seperti ini sebenarnya dekat dengan gagasan relationship marketing, yaitu membangun hubungan jangka panjang yang dilandasi kepercayaan, kepuasan, dan komitmen bersama. Penelitian menunjukkan bahwa hubungan yang kuat dengan pelanggan lebih mampu menciptakan loyalitas dibandingkan sekadar mengejar transaksi sesaat. Pelanggan yang merasa dihargai cenderung kembali, merekomendasikan kepada orang lain, dan bertahan lebih lama dibandingkan pelanggan yang hanya tertarik karena promosi.

Di sinilah saya merasa konsep mindful marketing menemukan urgensinya. Mindfulness bukan berarti pasif. Mindfulness juga bukan berarti anti-jualan. Mindfulness adalah kesadaran untuk mengetahui kapan berbicara, kapan mendengarkan, kapan menawarkan, dan kapan cukup hadir sebagai manusia yang ingin membantu manusia lain.

Saya teringat gagasan dalam buku Ketjap Nomer Doea karya I Putu Surya Negara yang saya baca belasan tahun silam. Salah satu kesan yang saya tangkap dari buku tersebut adalah bahwa bisnis pada akhirnya bertumbuh melalui hubungan antarmanusia. Kepercayaan tidak lahir dari teknik persuasi yang rumit, tetapi dari interaksi yang jujur, hangat, dan saling menghargai.

Barangkali itulah yang saya rasakan sore itu. Mie nyemek yang saya pesan sebenarnya tidak ada di menu. Namun, karena ada ruang untuk berdialog, menu itu akhirnya hadir. Yang saya bawa pulang bukan hanya rasa kenyang, tetapi juga pengalaman yang menyenangkan. Besar kemungkinan, jika suatu hari saya kembali ke kawasan itu, saya akan memilih datang ke tempat yang sama.

Bukan karena mienya semata. Melainkan karena hubungan yang telah terbangun. Di tengah dunia bisnis yang semakin dipenuhi algoritma, otomatisasi, dan perlombaan mengejar perhatian, mungkin kita perlu sesekali belajar dari semangkuk mie nyemek. Tidak terlalu berkuah hingga menenggelamkan rasa. Tidak terlalu kering hingga kehilangan kehangatan. Cukup secukupnya.

Karena tujuan akhir pemasaran bukanlah membuat orang membeli sekali. Tujuan akhirnya adalah membuat orang ingin kembali, bukan karena dipaksa, melainkan karena mereka merasa dihargai. ßMungkin, justru di sanalah rasa paling lezat dari sebuah pemasaran. (*)

Artikel Terkait