Nasional

Ferry Irwandi Sentil Purbaya soal Pertumbuhan Ekonomi: Jangan “Cherry Picking” Data Demi Banggakan Diri

Mataram (NTBSatu) – Kreator konten, Ferry Irwandi melontarkan kritik terhadap pernyataan Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada Kuartal I 2026.

Menurutnya, klaim tersebut terlalu berlebihan karena pemerintah mengandalkan lonjakan belanja negara dalam jumlah sangat besar.

Ferry menjelaskan, pembahasan tersebut bertujuan memberikan edukasi ekonomi makro kepada masyarakat secara objektif. Ia menegaskan, tidak membawa kepentingan politik maupun agenda tertentu dalam setiap analisanya.

IKLAN

Gue (saya, red) kembali lagi rutin membahas soal ekonomi, khususnya makroekonomi ya, dengan tujuan untuk memberikan edukasi, untuk meletakkan objektivitas di atas segalanya gitu,” ujar Ferry, mengutip unggahan YouTube pribadinya @ferryirwandi, Kamis, 21 Mei 2026.

Menurutnya, angka pertumbuhan ekonomi 5,61 persen tidak lahir murni dari konsumsi masyarakat maupun investasi. Ia justru menyoroti, lonjakan belanja pemerintah yang mencapai 21,81 persen pada Q1 2026. Ferry menyebut, angka tersebut sebagai kenaikan tertinggi dalam satu dekade terakhir.

“Kenaikan belanja pemerintah sampai 21,81 persen. Pertumbuhan pertama setinggi itu di sejarah republik ini dalam era modern,” katanya.

IKLAN

Kemudian, ia membandingkan pertumbuhan belanja pemerintah tahun ini dengan rata-rata 10 tahun terakhir yang hanya berkisar 3 hingga 6 persen. Ia menilai. lonjakan tersebut menciptakan anomali besar dalam struktur pertumbuhan ekonomi nasional.

Pertumbuhan Ekonomi Hanya 4,63 Persen

Dalam penjelasannya, Ferry menggunakan pendekatan akuntansi dan ekonometrika untuk menghitung ulang pertumbuhan ekonomi Indonesia apabila belanja pemerintah berada pada angka normal.

Ia menyebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya berada pada kisaran 4,63 persen jika pemerintah menggunakan rata-rata kenaikan belanja negara sebesar 4,8 persen seperti tren selama satu dekade terakhir.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia jika datanya normal, tidak ada anomali, tidak ada lonjakan government spending (belanja negara, red), tidak ada angka 21,81 persen. Tetapi pakai angka normal rata-rata 10 tahun yaitu 4,8 persen, maka pertumbuhan ekonomi kita hanya 4,63 persen,” tegasnya.

Ferry juga menyinggung, pernyataan Purbaya yang menyebut konsumsi rumah tangga menjadi faktor terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurutnya, penjelasan tersebut tidak utuh karena hanya menampilkan sebagian data tanpa menghitung kontribusi persentase poin secara detail.

Mantan pegawai Kementerian Keuangan itu juga meminta, pemerintah lebih berhati-hati dalam menyampaikan narasi ekonomi kepada publik. Ia mengingatkan, kebijakan belanja agresif berpotensi memunculkan tekanan terhadap fiskal negara, nilai tukar rupiah, hingga kepercayaan investor.

Ferry meminta pemerintah menyampaikan kondisi ekonomi secara objektif tanpa melebih-lebihkan data maupun memilih angka tertentu, demi membangun citra positif.

“Masih banyak kok poin yang bisa diunggulkan, strength-nya (kekuatannya), opportunity-nya (peluangnya, red). Tanpa harus mengglorifikasi, melebih-lebihkan, atau melakukan cherry picking (pilih-pilih data, red) untuk membanggakan diri,” ungkapnya.

Ferry turut menegaskan, kontennya hadir untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, bukan untuk menyerang pihak tertentu. “Konten ini dibuat bukan untuk memojokkan atau menyerang atau menjerumuskan pihak tertentu,” tegasnya. (*)

Atim Laili

Jurnalis NTBSatu

Artikel Terkait

Back to top button