Nasional

Purbaya Pastikan Krisis 1998 Tak Terulang Meski Rupiah Anjlok

Mataram (NTBSatu) – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa memastikan, Indonesia tidak akan mengalami krisis ekonomi seperti 1998, meski nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah.

Purbaya menilai, kondisi ekonomi nasional masih berada dalam jalur aman dan memiliki fondasi yang jauh lebih kuat dibandingkan masa krisis moneter puluhan tahun lalu.

Pernyataan tersebut muncul setelah rupiah terus bergerak melemah dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi itu memunculkan kekhawatiran publik, terkait kemungkinan terulangnya krisis ekonomi seperti 1998. Namun, Purbaya meminta masyarakat tidak panik menghadapi tekanan kurs saat ini.

IKLAN

Menurutnya, pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah untuk memperkuat pasokan dolar AS ke dalam negeri. Salah satu langkah utama berasal dari penerapan aturan baru Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang mulai berlaku pada 1 Juni 2026.

“Jadi teman-teman enggak usah takut yang ribut-ribut nilai tukar akan jeblok seperti 1998. Ini akan ada suplai dolar yang signifikan ke ekonomi kita. Jadi rupiah akan menguat,” ujar Purbaya, mengutip CNN Indonesia pada Sabtu, 23 Mei 2026.

Purbaya optimistis, aturan DHE SDA akan meningkatkan cadangan devisa dan memperkuat stabilitas rupiah. Ia bahkan, meminta pelaku pasar valuta asing agar tidak terlalu lama menyimpan dolar Amerika Serikat.

IKLAN

“Saya bilang pemain valas cepat-cepat buang dolarnya. Kita akan dorong rupiah ke Rp15.000 per dolar AS,” tegasnya.

Pelemahan Rupiah Masih Terkendali

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Aida S Budiman menyampaikan pandangan serupa terkait kondisi rupiah saat ini. Menurutnya, pelemahan kurs rupiah masih berada dalam batas yang terkendali dan belum mencerminkan situasi krisis seperti 1998.

“Kita mesti melihat di awal tahun Rp16.680-an sekarang Rp17.700-an memang level Rp17.700, tetapi kalau dilihat pelemahan 5,5 persen,” katanya.

Kemudian, ia membandingkan kondisi sekarang dengan krisis moneter 1998. Saat itu, nilai tukar rupiah mengalami tekanan ekstrem dengan lonjakan hingga sekitar 639 persen secara point to point, yakni dari level Rp2.300 per dolar AS menjadi Rp17.000 per dolar AS.

Menurutnya, kondisi saat ini sangat berbeda karena Bank Indonesia aktif menjaga stabilitas kurs melalui berbagai instrumen kebijakan ekonomi. Fokus utama bank sentral bukan sekadar mempertahankan angka tertentu, melainkan menjaga stabilitas pergerakan nilai tukar agar tetap terkendali.

“Saya bukan bilang ini tidak apa-apa, tetapi kita harus apa-apa. Artinya, harus berusaha agar nilai tukar stabil dan ini dilakukan BI dengan memastikan stabilitas nilai tukar, bukan levelnya, tetapi stabilitasnya,” jelasnya.

Bank Indonesia saat ini menjalankan strategi bauran kebijakan melalui instrumen moneter, kebijakan makroprudensial, serta sistem pembayaran. Langkah tersebut bertujuan menjaga kepercayaan pasar, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional saat tekanan global meningkat. (*)

Atim Laili

Jurnalis NTBSatu

Artikel Terkait

Back to top button