UKP Pariwisata Tegaskan Kelestarian Alam Tetap Jadi Prioritas dalam Pembangunan Kereta Gantung Rinjani
Mataram (NTBSatu) – Wacana pembangunan kereta gantung di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), masih menjadi perbincangan hangat masyarakat NTB.
Pembahasan proyek wisata tersebut semakin ramai setelah Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB menyampaikan sikap penolakan, terhadap rencana pembangunan kereta gantung.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi NTB, Didik Mahmud Gunawan Hadi menjelaskan, alasan penolakan tersebut berkaitan dengan pentingnya menjaga kondisi lingkungan kawasan Gunung Rinjani. Menurutnya, kawasan itu memiliki peran vital bagi kehidupan masyarakat Pulau Lombok.
“Kalau ditanya apa pandangan atau sikap kita terhadap (proyek) ini, sesuai katanya Pak Gubernur kemarin itu menolak. Pemprov menolak. Karena (Gunung Rinjani) dijuluki Mother of Island,” kata Didik, Rabu, 6 Mei 2026.
Gunung Rinjani selama ini bukan hanya terkenal sebagai destinasi wisata unggulan NTB, tetapi juga menjadi sumber ekosistem penting bagi masyarakat sekitar. Kawasan tersebut menyimpan nilai ekologis, sumber mata air, serta kekayaan budaya yang melekat kuat pada kehidupan warga Lombok.
Di tengah polemik tersebut, Utusan Khusus Presiden (UKP) Bidang Pariwisata melalui akun Instagram resmi @ukp_pariwisata ikut memberikan perhatian terhadap rencana pembangunan kereta gantung Rinjani. UKP Pariwisata menekankan, pentingnya keseimbangan antara pengembangan wisata dan perlindungan lingkungan.
Pariwisata Berkelanjutan Jadi Fokus Utama
UKP Pariwisata menjelaskan, proyek kereta gantung Rinjani saat ini masih memasuki tahap pembahasan dokumen lingkungan pada pemerintah pusat. Proses tersebut mencakup kajian Amdal, Kerangka Acuan (KA), Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL), hingga Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL).
“Proyek kereta gantung di kawasan Gunung Rinjani saat ini masih dalam tahap pembahasan dokumen Amdal di Pemerintah Pusat,” tulisnya, mengutip Instagram @ukp_pariwisata, Senin, 11 Mei 2026.
Seluruh tahapan kajian lingkungan itu menjadi dasar penting sebelum proyek memasuki proses lanjutan. Selain peluang investasi dan penguatan akses wisata, perhatian terhadap dampak ekologis juga menjadi bagian utama dalam proses pengkajian.
UKP Pariwisata menilai, pengembangan destinasi wisata strategis harus berjalan seiring dengan prinsip pariwisata berkelanjutan.
“Pariwisata berkelanjutan diharapkan mampu menghadirkan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, konservasi alam, dan keberlangsungan destinasi untuk generasi mendatang,” tambahnya.
Pembangunan kereta gantung Rinjani sendiri mulai muncul sejak groundbreaking pada Desember 2022. Proyek tersebut bahkan masuk sebagai salah satu rencana kereta gantung terpanjang di dunia, dan mendapat harapan besar untuk mendukung sektor pariwisata NTB.
Meski demikian, berbagai pihak terus mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan konservasi alam. Gunung Rinjani memiliki posisi penting sebagai kawasan alam sekaligus ikon wisata Indonesia.
“Pariwisata tidak hanya bicara pembangunan, tetapi juga tanggung jawab menjaga alam,” lanjutnya.
Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, investor, masyarakat lokal, dan pegiat lingkungan menjadi kunci agar pengembangan wisata tetap berjalan tanpa mengorbankan kelestarian alam. (*)




