Mahasiswi asal Bima Bangun Pojok Baca di Pelosok Sulawesi Tenggara
Bima (NTBSatu) – Jarak ribuan kilometer dan bentangan lautan tak menyurutkan semangat pengabdian Mufidah, mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.
Putri daerah asal Kabupaten Bima ini berhasil menginisiasi dan membangun “Pojok Baca Berkelanjutan” di Desa Walelei, Kepulauan Muna Barat, Sulawesi Tenggara.
Langkah ini lahir dari keprihatinan Mufidah saat menyaksikan minimnya akses buku bagi anak-anak di daerah pelosok. Ia menolak sekadar menggugurkan kewajiban kampus dan memilih menghadirkan solusi konkret bagi krisis literasi setempat.
“Literasi adalah pondasi utama bagi masa depan generasi kita. Saat turun langsung ke lapangan, saya melihat anak-anak di pelosok ini punya semangat belajar yang luar biasa tinggi. Namun mereka sangat membutuhkan kelengkapan buku dan lapak baca yang memadai untuk merawat semangat itu,” tegas Mufidah, Senin, 24 Agustus 2026.
Meneliti Kebudayaan Lokal
Tak hanya membangun ruang baca, mahasiswa yang aktif menulis ini juga memanfaatkan masa pengabdiannya untuk meneliti tradisi, bahasa, serta unsur budaya lokal Kepulauan Muna Barat.
Meski bangga bisa membawa dampak positif di tanah perantauan, Mufidah menyimpan visi besar untuk tanah kelahirannya. Pengalaman di Sulawesi Tenggara justru makin memperkuat tekadnya untuk memajukan literasi di NTB.
“Ada kebanggaan dan haru bisa membawa manfaat sampai ke provinsi lain. Tetapi, doa dan harapan terbesar saya adalah kelak diberikan kesempatan, ruang, dan waktu untuk melakukan hal yang sama di kampung halaman saya sendiri, yaitu Bima,” ungkapnya.
Mufidah menekankan, keberlanjutan gerakan literasi membutuhkan dorongan nyata dari para pemangku kebijakan. Ia mendesak adanya kolaborasi lintas birokrasi agar ruang baca tidak berhenti sebagai aksi individual mahasiswa semata.
“Saya sangat berharap pemerintah kabupaten dan pemerintah desa bisa saling bekerja sama dan menaruh perhatian lebih pada isu ini. Buatlah minimal satu lapak baca di setiap desa. Ini adalah upaya dan investasi jangka panjang yang paling masuk akal untuk meningkatkan nalar kritis anak-anak desa,” pungkasnya. (*)




