Headline NewsLombok Tengah

Ponpes Rosyidatushaulatiyyah Bantah Santri Dibakar, Sebut Insiden Permainan Api

Lombok Tengah (NTBSatu) – Pihak Pondok Pesantren (Ponpes) Rosyidatushaulatiyyah Al-Ibrahimi NW, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, angkat bicara. Mereka membantah narasi yang menyebut tiga santri menjadi korban penyiraman pembakaran.

Ketua Yayasan Rosyidatushaulatiyyah Al-Ibrahimi NW, TGH Ahmad Muzakki Rahmatullah menyebut, insiden yang terjadi pada Desember 2025 tersebut merupakan kecelakaan. Pemicunya, saat itu sejumlah santri bermain api menggunakan bensin di salah satu kamar.

Kejadian terjadi di sebuah ruangan bekas kamar pengasuh saat jam istirahat. Lanjutnya, bensin itu awalnya mereka beli atas perintah salah seorang santri yang disinyalir sebagai pelaku. Bensin tersebut untuk meluruskan kayu ketapel dengan cara dibakar.

IKLAN

“Tidak ada penyiraman bensin. Tidak ada penyiraman,” tegas Muzakki kepada NTBSatu, Rabu, 3 Juni 2026.

Kronologi Kejadian

Ia menjelaskan, saat kejadian terdapat lima santri berada di dalam ruangan. Sebagian bensin kemudian dituangkan ke atas lembaran mika dan dibakar. Namun, botol bensin yang berada di dekat api tersenggol hingga memicu kobaran api yang cepat membesar.

Akibatnya, tiga santri mengalami luka bakar. Sementara dua santri lainnya berhasil keluar dari ruangan.

IKLAN

Muzakki mengatakan, pihak Ponpes sempat mengevakuasi para korban ke Puskesmas Aik Dareq. Namun pihak keluarga akhirnya bersepakat merujuk korban ke fasilitas kesehatan di Praya.

“Begitu saya keluar karena mencium bau menyengat, pihak keluarga sudah membawa korban dan teman-temannya keluar. Setelah itu langsung kami bawa ke puskesmas,” ujarnya.

Ponpes Tanggung Jawab

Ia juga membantah tudingan bahwa pihak pondok lepas tangan terhadap para korban pascakejadian.

Menurutnya, yayasan terus memantau perkembangan kesehatan korban, menjenguk ke rumah masing-masing. Tidak hanya itu, pihak Ponpes juga memberikan bantuan berupa uang, makanan, minuman, dan kebutuhan lainnya.

“Kami tidak lepas tangan. Kami terus menjenguk dan membantu sesuai kemampuan kami,” katanya.

Selain itu, pihak yayasan mengaku telah memfasilitasi mediasi antara keluarga korban dan keluarga pelaku. Dari proses tersebut, tercapai kesepakatan bantuan sebesar Rp5 juta untuk masing-masing korban.

Terkait salah satu korban yang kemudian meninggal dunia, Muzakki menyebut korban bernama Sobirin. Ia wafat sehari sebelum Ramadan 2026.

Kendati demikian, ia mengklaim korban memiliki penyakit lain. Sehingga kematiannya tidak semata-mata akibat luka bakar pada insiden tersebut. “Ada penyakit lain. Dan itu yang menyebabkan dia meninggal,” tegasnya.

Sebelumnya, kasus dugaan pembakaran santri di salah satu pondok pesantren di wilayah Batukliang mencuat setelah video salah satu korban beredar di media sosial.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram, Joko Jumadi mengatakan, pihaknya sedang mendalami informasi tersebut. LPA juga berencana berkoordinasi dengan kepolisian untuk memastikan kronologi dan fakta yang sebenarnya terjadi. (*)

Artikel Terkait

Back to top button