Ekonomi Bisnis

Penurunan Produksi Tambang Tekan Laju Pertumbuhan Ekonomi NTB

Mataram (NTBSatu) – Badan Pusat Statistik (BPS) NTB menyebut penurunan produksi sektor pertambangan mulai menekan laju pertumbuhan ekonomi daerah.

Kondisi itu terjadi setelah relaksasi ekspor konsentrat berakhir, sementara smelter PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) belum beroperasi dengan kapasitas optimal.

Kepala BPS NTB, Wahyudin mengatakan, pertanian, pertambangan, dan perdagangan masih menjadi tiga sektor utama penopang perekonomian NTB. Ketiga sektor tersebut menjadi penentu arah pertumbuhan ekonomi daerah.

IKLAN

“Pertanian menyumbang 22 persen, pertambangan 19 persen, kemudian perdagangan. Kalau tiga sektor ini bergeraknya mundur, pertumbuhan ekonomi bisa turun,” katanya Senin, 3 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, kontribusi sektor pertambangan memang cukup besar meski aktivitas tambang skala besar terkonsentrasi di Kabupaten Sumbawa Barat.

Di daerah lain, aktivitas pertambangan seperti galian C juga tetap masuk dalam sektor pertambangan.

Wahyudin mengatakan, perlambatan sektor pertambangan mulai terlihat setelah relaksasi ekspor konsentrat PT AMNT berakhir pada April 2026. Selama masa relaksasi sejak Oktober 2025 hingga April 2026, perusahaan masih mengekspor konsentrat.

Setelah relaksasi berakhir, PT AMNT tidak lagi mengekspor konsentrat. Perusahaan hanya memasok hasil tambang untuk memenuhi kebutuhan smelter yang masih beroperasi secara bertahap.

Menurutnya, kapasitas smelter saat ini baru sekitar 50 persen. Kondisi tersebut membuat smelter belum mampu menyerap seluruh hasil produksi tambang.

“Setelah April tidak ada ekspor lagi. Hasil tambang hanya masuk ke smelter, sementara kapasitasnya baru sekitar 50 persen,” katanya.

Ia menjelaskan, perusahaan tidak dapat terus memproduksi bijih tambang dalam jumlah normal karena kapasitas penyimpanan hasil produksi juga terbatas. Jika produksi terus berjalan, stok akan terus menumpuk.

“Kalau produksi terus seperti biasa, hasilnya mau ditaruh di mana. Memang ada stok, tapi kalau terus menumpuk, tempatnya tidak ada lagi,” ucapnya.

Kondisi tersebut membuat perusahaan mengurangi produksi tambang. Wahyudin memperkirakan penurunannya mencapai sekitar 40 persen dibandingkan periode sebelumnya, meski BPS belum memiliki angka final.

“Persisnya belum ada. Mungkin sekitar 40 persen dibandingkan periode sebelumnya. Pasti ada pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Kapasitas Smelter Sekitar 800 Ribu Ton Per Tahun

Ia menjelaskan, smelter PT AMNT memiliki kapasitas penuh sekitar 800 ribu ton per tahun. Namun, produksi saat ini baru sekitar 400 ribu ton per tahun atau sekitar separuh dari kapasitas tersebut.

Artinya, smelter baru mampu menyerap sekitar separuh hasil produksi tambang selama setahun. Kondisi itu membuat perusahaan menyesuaikan volume produksi dengan kapasitas pengolahan yang tersedia.

Wahyudin mengatakan, peningkatan kapasitas smelter akan memberi dampak positif terhadap perekonomian NTB. Hasil pengolahan mineral tidak hanya berupa katoda tembaga, tetapi juga emas, perak, asam sulfat, dan beberapa produk turunan lainnya.

“Kalau seluruh fasilitas sudah berjalan, kapasitas produksi smelter naik. Otomatis pertumbuhan ekonomi juga terdorong,” katanya.

Ia menjelaskan, smelter nantinya menghasilkan sedikitnya tujuh produk turunan hasil pengolahan mineral. Namun, saat ini baru sekitar empat produk yang sudah dihasilkan.

Meski hilirisasi mulai berjalan, kontribusi sektor industri pengolahan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB masih sekitar 5 hingga 6 persen. Angka tersebut masih berada pada level satu digit.

Karena itu, Wahyudin menilai dampak hilirisasi terhadap pertumbuhan ekonomi belum berlangsung maksimal. Peningkatan kontribusi industri akan mengikuti kenaikan kapasitas produksi smelter secara bertahap.

Wahyudin menambahkan, peningkatan kapasitas smelter masih berlangsung secara bertahap. Menurutnya, kapasitas maksimal smelter hanya sekitar 85 persen sehingga tidak akan beroperasi pada kapasitas 100 persen.

“Kapasitas maksimalnya sekitar 85 persen. Tidak bisa sampai 100 persen,” katanya.

Selain itu, menurut Wahyudin, sektor lain juga berperan terhadap perekonomian NTB.

Namun, pergerakan tiga sektor utama tersebut paling menentukan tinggi rendahnya pertumbuhan ekonomi NTB.

Ia juga meluruskan anggapan yang menempatkan pariwisata sebagai sektor ekonomi tersendiri. Dalam klasifikasi lapangan usaha, pariwisata justru melibatkan hampir seluruh sektor ekonomi.

“Pariwisata mencakup hampir seluruh sektor. Pertanian masuk, industri masuk, pendidikan juga masuk,” jelasnya. (*)

Artikel Terkait