SeniSumbawa

Belajar Menenun Sejak Usia 13 Tahun, Muslimah Jaga Tradisi Kain Sesek dari Dusun Malili

Sumbawa Besar (NTBSatu) – Suara alat tenun masih mengisi rumah Muslimah di Dusun Malili, Desa Berare, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa. Hampir setiap hari ia menggerakkan benang demi benang hingga membentuk kain sesek yang menjadi identitas budaya masyarakat Samawa.

Muslimah mengawali perjalanannya sebagai penenun sejak usia 13 tahun. Sang bibi mengenalkan teknik menenun sekaligus mendampinginya hingga mampu menghasilkan kain sendiri. Sejak saat itu, ia terus menenun dan menjadikan keterampilan tersebut sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Muslimah menerima NTBSatu di rumahnya pada Minggu, 26 Juli 2026 sekitar pukul 13.00 Wita. Ia mengenang masa pertama kali belajar menenun dengan penuh semangat.

IKLAN

“Saya mulai belajar menenun sejak umur 13 tahun. Bibi yang mengajari saya,” katanya.

Kini pengalaman panjang membuatnya mampu menyelesaikan berbagai motif kain sesek. Namun setiap motif tetap membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan ketekunan.

Tenun Jaga Budaya, Menambah Penghasilan

Muslimah mampu menenun kain sepanjang sekitar delapan meter dalam satu kali proses. Ia biasanya menyelesaikan pekerjaan itu sekitar sepuluh hari. Jadwal tersebut menyesuaikan waktu luang karena ia juga mengurus pekerjaan rumah.

“Kalau pekerjaan rumah sedang banyak, waktu menenun ikut bertambah. Kalau lebih fokus, sekitar sepuluh hari sudah selesai,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan sistem upah yang berlaku di kalangan penenun. Pemesan yang membawa benang sendiri membayar ongkos menenun sebesar Rp400 ribu. Sementara itu, Muslimah menjual kain miliknya mulai Rp550 ribu. Harga terus menyesuaikan motif dan tingkat kesulitan.

“Kalau benangnya dari pemesan, saya menerima ongkos menenun Rp400 ribu. Kalau kain milik sendiri, harganya mulai Rp550 ribu. Harga mengikuti motif dan tingkat kesulitannya,” jelasnya.

Selama belasan tahun menenun, Muslimah tidak pernah memilih motif tertentu sebagai favorit. Baginya, setiap motif memiliki nilai seni dan tantangan yang sama.

Ia menyebut, sekitar sepuluh perempuan di Dusun Malili masih rutin menenun kain sesek. Jumlah itu memang belum sedikit, tetapi belum bertambah dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut Muslimah, banyak anak muda menyukai motif dan hasil tenun. Namun hanya sedikit yang ingin belajar sampai mahir karena hampir semua penenun berasal dari kalangan ibu-ibu.

“Anak-anak muda senang melihat motifnya. Tetapi saya belum melihat banyak yang benar-benar ingin belajar menenun,” tuturnya.

Muslimah terus menenun karena ingin menjaga budaya Samawa sekaligus menambah penghasilan keluarga. Ia juga mengumpulkan kain-kain hasil tenun sebagai koleksi yang memiliki nilai budaya.

“Saya ingin terus menjaga kain sesek. Hasil menenun juga membantu ekonomi keluarga,” katanya.

Ia berharap semakin banyak generasi muda ikut belajar menenun sehingga tradisi kain sesek terus hidup. Ia juga berharap masyarakat luar Sumbawa semakin mengenal kain sesek sehingga jumlah pesanan meningkat dan para penenun memperoleh penghasilan yang lebih baik.

“Semoga semakin banyak anak muda ikut melestarikan kain sesek. Saya juga berharap orang luar semakin mengenal kain ini sehingga pesanan bertambah dan ekonomi para penenun ikut naik,” harapnya. (*)

Artikel Terkait