KesehatanSumbawa

37 Kasus Campak Positif Ditemukan di Sumbawa

Sumbawa Besar (NTBSatu) – Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa memperkuat kewaspadaan terhadap penularan campak setelah pemeriksaan laboratorium menemukan 37 kasus positif dari 71 kasus suspek.

Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit, dan Penyehatan Lingkungan (P3PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, Aris Dwi Atmoko, SE., mengatakan petugas masih memproses sebagian hasil pemeriksaan laboratorium dari 71 kasus suspek tersebut.

“Dari 71 kasus yang terkonfirmasi pemeriksaan laboratorium, positif itu 37. Artinya, positif rate-nya sekitar 50 persen saat ini,” ujarnya kepada NTBSatu, Rabu 2 September 2026.

IKLAN

Aris menegaskan, Dinas Kesehatan Sumbawa tidak boleh menganggap angka tersebut kecil. Menurutnya, petugas harus segera memperkuat langkah pencegahan agar penularan campak tidak meluas.

Dinas Kesehatan Sumbawa juga meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan campak di daerah sekitar. Aris menyebut, petugas ikut memantau kondisi Kabupaten Bima dan Dompu.

Ia mengatakan, Kabupaten Bima sudah menyatakan KLB campak. Kondisi tersebut mendorong Dinas Kesehatan Sumbawa memperkuat langkah perlindungan masyarakat. Tujuannya, agar penularan dari daerah sekitar tidak berkembang di Sumbawa.

IKLAN

Dinas Kesehatan Sumbawa memantau perkembangan penyakit melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Setiap pekan, petugas surveilans melaporkan perkembangan berbagai jenis penyakit di wilayah Sumbawa.

Selain itu, seluruh puskesmas menjalankan survei cepat komunitas (SCR). Petugas menggunakan survei tersebut untuk mengukur tingkat kekebalan masyarakat terhadap campak.

Perkuat SCR dan Siapkan ORI

Aris menjelaskan, Dinas Kesehatan Sumbawa tidak hanya memeriksa wilayah dengan cakupan imunisasi rendah. Petugas juga menyurvei wilayah yang memiliki cakupan imunisasi tinggi.

Langkah tersebut membantu Dinas Kesehatan memastikan angka cakupan imunisasi tinggi benar-benar menggambarkan kekebalan komunitas. Petugas juga ingin mengetahui apakah masih ada kelompok masyarakat yang berpotensi menjadi sumber penularan.

“Yang kita pastikan adalah surveinya untuk memastikan yang kondisinya memang cakupan imunisasinya sudah tinggi, apakah perlu dilakukan ORI,” jelas Aris.

Untuk wilayah dengan cakupan imunisasi rendah, pihaknya dapat langsung menyiapkan ORI (Outbreak Response Immunization) atau imunisasi respons kejadian luar biasa.

Selanjutnya, menentukan wilayah sasaran setelah petugas memperoleh kajian epidemiologi dari SCR. Hasil kajian tersebut akan membantu petugas memilih wilayah yang membutuhkan intervensi imunisasi.

Aris menegaskan, imunisasi menjadi langkah utama untuk mencegah penularan campak. Kekebalan komunitas dapat menghambat penyebaran virus ketika seseorang terpapar campak.

Lengkapi Imunisasi Campak-Rubella

Aris mengatakan sebagian besar suspek campak memiliki riwayat imunisasi yang belum lengkap. Karena itu, petugas akan menyisir masyarakat yang belum melengkapi imunisasi campak-rubella.

“Campak itu ada dua kali, campak rubella satu dan rubella dua. Jadi ada campak dasar dan kemudian lanjutan,” katanya.

Dinas Kesehatan akan melengkapi imunisasi masyarakat yang belum menerima dosis sesuai kebutuhan. Langkah tersebut bertujuan memperkuat kekebalan komunitas sekaligus menekan risiko penularan.

Aris menjelaskan campak dapat menular melalui droplet atau percikan. Karena itu, masyarakat membutuhkan kekebalan tubuh melalui imunisasi untuk menangkal penularan.

Selain memperkuat imunisasi, Dinas Kesehatan Sumbawa juga mengembangkan surveilans berbasis masyarakat. Dinas Kesehatan mengajak masyarakat mengenali perubahan kondisi kesehatan warga di lingkungan sekitar dan melaporkannya kepada kader maupun tenaga kesehatan.

Ia mengatakan, masyarakat dapat membantu petugas menemukan gejala penyakit lebih cepat. Menurutnya, keterlibatan masyarakat juga membantu petugas menghadapi keterbatasan sumber daya dan biaya untuk melakukan screening secara menyeluruh.

“Harapannya kita menumbuhkan perasaan empati masing-masing masyarakat. Kalau melihat kanan-kirinya berperilaku tidak normal dalam kesehatannya, harapannya mereka melakukan laporan,” ujarnya.

Melalui penguatan surveilans, SCR, imunisasi, dan persiapan ORI, Dinas Kesehatan Sumbawa berupaya memutus rantai penularan campak. Langkah tersebut sekaligus memperkuat perlindungan masyarakat Sumbawa di tengah peningkatan kewaspadaan terhadap KLB campak di daerah sekitar. (*)

Artikel Terkait