NTB

Mengapa Suhu Udara di NTB Terasa Lebih Dingin? Begini Penjelasan BMKG

Mataram (NTBSatu) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), meminta masyarakat NTB mewaspadai penurunan suhu udara. Penurunan ini mengakibatkan suhu udara terasa lebih dingin selama beberapa hari terakhir.

Prakirawan BMKG Stamet ZAM, Nur Siti Zulaichah menjelaskan, fenomena ini sudah biasa terjadi. Menurutnya, kondisi itu menjadi salah satu indikator masuknya periode transisi menuju musim kemarau.

“Suhu udara yang lebih dingin merupakan fenomena umum yang terjadi setiap tahun. Terutama menjelang kemarau dan saat kemarau,” ujarnya kepada NTBSatu pada Kamis, 2 Juni 2026.

IKLAN

BMKG memantau keadaan cuaca di wilayah NTB saat ini cenderung dominan cerah hingga berawan. Potensi hujan ringan memang masih ada, namun sifatnya hanya lokal dan melanda beberapa titik tertentu. Kondisi langit yang bersih tanpa awan ini merupakan pemicu utama penurunan suhu yang drastis pada malam hari.

Faktor Radiasi Balik Bumi

Zulaichah menjelaskan, sedikitnya jumlah tutupan awan sejak pagi hingga sore hari berdampak langsung pada pelepasan energi panas bumi. Pada siang hari, bumi menyerap panas matahari secara maksimal.

Namun saat malam tiba, bumi melepaskan kembali panas tersebut ke atmosfer dengan sangat cepat, karena tidak ada awan yang menghalanginya.

IKLAN

“Radiasi balik ini terjadi tanpa hambatan sehingga suhu udara di permukaan bumi turun secara signifikan saat malam hingga dini hari,” tambahnya.

Selain faktor tersebut, Kelembaban Relatif (RH) di wilayah NTB saat ini juga cenderung rendah. Angin Monsun Australia yang membawa massa udara kering dan dingin sudah sepenuhnya memasuki wilayah Indonesia, khususnya NTB.

Imbauan Jaga Kesehatan

Menyikapi fenomena suhu dingin ini, BMKG mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting bagi masyarakat NTB agar aktivitas sehari-hari tidak terganggu. Cuaca kering dan sejuk berpotensi memicu masalah kesehatan jika masyarakat tidak melakukan antisipasi awal.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kondisi tubuh, menggunakan pakaian yang sesuai, dan memenuhi kebutuhan cairan tubuh,” sambungnya.

Masyarakat juga perlu terus memantau pembaruan informasi cuaca resmi melalui kanal-kanal komunikasi BMKG yang telah tersedia. Langkah ini penting untuk mengantisipasi perubahan cuaca ekstrem yang bisa terjadi sewaktu-waktu selama musim transisi ini.(*)

Artikel Terkait