Gunung Rinjani Status Waspada, TNGR Sebut Pendakian Masih Aman
Lombok Timur (NTBSatu) – Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat (NTB) masih berstatus Level II atau Waspada. Meski berstatus Waspada, aktivitas pendakian masih berjalan.
Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) memastikan kondisi jalur pendakian dan lokasi perkemahan masih aman.
Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TNGR, Astekita Ardiaristo mengatakan, pihaknya terus memantau perkembangan Gunung Rinjani.
TNGR juga berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Pemantauan mengacu pada laporan evaluasi aktivitas gunung api yang terbit setiap dua pekan.
“Sesuai laporan dua mingguan PVMBG, aktivitas vulkanik yang terpantau masih berada di sekitar kawah Gunung Barujari,” ujarnya, Kamis, 27 Agustus 2026.
Menurutnya, aktivitas vulkanik tersebut belum mencapai jalur pendakian. Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah lokasi perkemahan. “Jaraknya tidak mencapai lokasi perkemahan maupun jalur pendakian,” katanya.
Berdasarkan evaluasi PVMBG periode 1-15 Agustus 2026, Gunung Rinjani masih menunjukkan aktivitas kegempaan. Petugas mencatat sejumlah jenis gempa selama periode tersebut. Di antaranya sembilan Gempa Hembusan dan dua Gempa Harmonik.
PVMBG juga mencatat 50 Gempa Tremor Non-Harmonik. Selain itu, terdapat enam Gempa Low-Frequency. Petugas turut mencatat satu Gempa Hybrid dan satu Gempa Vulkanik Dangkal. Kemudian, terdapat 27 Gempa Vulkanik Dalam.
Aktivitas Gempa Tektonik juga cukup banyak. PVMBG mencatat 52 Gempa Tektonik Lokal dan 117 Gempa Tektonik Jauh.
PVMBG menyebut, Gempa Low-Frequency menunjukkan aliran fluida magmatik dangkal masih terjadi. Aktivitas Gempa Vulkanik juga masih menunjukkan proses peretakan batuan di dalam tubuh gunung.
Sementara itu, Gempa Tektonik masih terjadi secara intensif. Aktivitas tersebut berkaitan dengan pergerakan kerak bumi di sekitar Gunung Rinjani.
Aktivitas Gempa Vulkanik Alami Penurunan
Meski demikian, aktivitas kegempaan Gunung Rinjani masih berfluktuasi. Gempa Vulkanik tercatat mengalami penurunan.
Sebaliknya, Gempa Tremor Non-Harmonik mengalami peningkatan. PVMBG mengaitkan peningkatan itu dengan gempa terasa berskala MMI 7 yang terjadi di Nusa Tenggara Timur.
PVMBG tetap mempertahankan status Gunung Rinjani pada Level II atau Waspada.
Pada kondisi tersebut, terdapat sejumlah potensi bahaya. Ancaman utamanya berupa lontaran material pijar, batu, kerikil, pasir, dan hujan abu di sekitar danau.
Hujan abu tipis juga bisa menyebar ke wilayah yang lebih luas. Sebarannya bergantung pada arah dan kecepatan angin.
Karena itu, PVMBG meminta masyarakat dan pendaki tidak mendekati Kawah Utama. Jarak aman yang ditetapkan mencapai radius 1,5 kilometer.
TNGR juga meminta pendaki mengikuti arahan petugas. Pendaki diminta tidak mendekati kawasan kawah aktif Gunung Barujari.
Astekita memastikan pihaknya akan terus berkoordinasi dengan PVMBG. Koordinasi dilakukan jika terjadi perubahan aktivitas maupun status Gunung Rinjani.
“Kami selalu berkoordinasi dengan PVMBG apabila ada perubahan status ataupun ada aktivitas dari Gunung Rinjani,” tegasnya.
Menurut Astekita, aktivitas pendakian saat ini masih aman. Kondisi itu berlaku di jalur pendakian maupun lokasi perkemahan yang berada di luar zona terlarang.
“Sampai saat ini, aktivitas pendakian masih aman di setiap jalur maupun di setiap tempat kemah,” katanya.
Jalur pendakian melalui Sembalun, Senaru, dan Timbanuh masih dibuka. TNGR tetap melakukan pengawasan bersama instansi terkait.
PVMBG akan mengevaluasi aktivitas Gunung Rinjani secara berkala. Evaluasi juga dapat dilakukan sewaktu-waktu jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan.
Status Level II dan rekomendasi keselamatan tetap berlaku hingga PVMBG menerbitkan laporan evaluasi berikutnya. (*)




