Dari Aktivis hingga Wakil Rakyat: Bertemu Masyarakat Jadi “Obat” Ahmad Syamsul Hadi
Lombok Tengah (NTBSatu) – Menjadi wakil rakyat bagi Ahmad Syamsul Hadi bukan sekadar soal menduduki kursi di parlemen. Ada perjalanan panjang yang membentuk cara pandangnya dalam menjalankan tugas sebagai legislator.
Pria kelahiran Praya, 28 Oktober 1980 itu sejak mahasiswa sudah aktif dalam gerakan mahasiswa dan advokasi petani. Sejak 2002, ia terlibat dalam Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI). Ia kemudian aktif dalam isu hak asasi manusia, lingkungan hidup dan demokrasi.
Ahmad kembali ke Lombok pada 2016. Ia bergabung dengan Partai NasDem dan sempat menjadi tenaga ahli anggota Fraksi NasDem DPR RI pada 2019-2024. Setelah gagal dalam pencalonan DPRD Lombok Tengah pada 2019, ia kembali maju pada Pemilu 2024 dari Dapil I Praya-Praya Tengah dan berhasil terpilih.
Kini, ia dipercaya menjadi Ketua Komisi I DPRD Lombok Tengah sekaligus Ketua Fraksi NasDem.
Bagi Ahmad, perjuangan paling berat justru terjadi sebelum duduk di parlemen. Selama sekitar satu tahun, ia berkeliling daerah pemilihan untuk memperkenalkan diri dan meyakinkan masyarakat.
“Yang lebih berat itu sebenarnya waktu kita di pemilu, atau di elektoral itu sendiri. Untuk meyakinkan masyarakat untuk memilih kita sebagai wakilnya di parlemen, itu memang membutuhkan waktu yang cukup panjang,” ujarnya.
Senang Dengar Keluhan Masyarakat
Setelah terpilih, Ahmad justru merasa senang ketika masyarakat datang membawa persoalan. Baginya, kedatangan warga, kelompok masyarakat maupun organisasi masyarakat sipil ke DPR merupakan bagian dari fungsi lembaga tersebut.
“Saya malah sangat happy, saya gembira jika ada unjuk rasa atau demonstrasi yang datang ke kantor DPR membawa masalah mereka,” katanya.
Menurutnya, kantor DPR semestinya menjadi rumah bagi masyarakat untuk mencari jalan keluar.
“Seharusnya kantor DPR itu menjadi rumah yang bisa menjawab persoalan mereka, dan DPR salah satu saluran yang bisa membuat mereka menemukan jalan keluar dari masalah yang dihadapi,” ujarnya.
Karena itu, Ahmad menempatkan integritas sebagai prinsip utama. Ia ingin DPR tidak sekadar membuat aturan atau menggelar rapat, tetapi benar-benar menunjukkan kehadiran kepada masyarakat.
Cita-citanya sederhana. Rapat tepat waktu, agenda kelembagaan berjalan, dan pekerjaan diselesaikan dengan baik.
“Kalau kita bisa rapat tepat waktu saja, tidak molor, kemudian membahas agenda dan jadwal kita secara baik, menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan di kantor dengan baik selama satu periode, itu sudah bagus sekali,” katanya.
Dedikasi ke Pekerjaan
Kesibukan sebagai wakil rakyat juga membuat Ahmad harus berbagi waktu dengan keluarga. Namun, ia mengatakan keluarganya sudah memahami konsekuensi pekerjaannya.
“Ketika saya keluar dari rumah ini, maka badan saya, pikiran saya ini sudah akses publik, sudah punya publik,” ujarnya.
Lelah tentu tetap ada. Namun, bagi Ahmad, bertemu masyarakat justru menjadi cara untuk mengisi kembali energinya.
“Bertemu dengan masyarakat banyak itu bagi saya itu obat, untuk ngecas diri,” katanya.
Ia ingin meninggalkan satu warisan sederhana selama menjadi anggota DPRD: disiplin.
“Setidak-tidaknya ada best practice yang kita tinggalkan. Paling sederhana itu disiplin. Disiplin ngantor, disiplin memenuhi agenda-agenda kelembagaan,” ujarnya.
Bagi Ahmad, ukuran keberhasilannya bukan sekadar jabatan. Ia ingin masyarakat suatu hari melihat DPRD dan berkata, “Ternyata DPR itu ada, hadir, dan bekerja.” (*)




