Kota MataramPolitik

Destinasi Wisata Mataram Sepi, Dewan Soroti Pantai Kotor hingga PKL Semrawut

Mataram (NTBSatu) – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Mataram menyoroti pengelolaan sejumlah destinasi wisata yang belum mampu menarik minat masyarakat.

Kebersihan, penataan Pedagang Kaki Lima (PKL), fasilitas, hingga minimnya agenda pariwisata menjadi pekerjaan rumah pemerintah.

Sorotan tersebut muncul menyusul pernyataan Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Mataram mengenai penurunan kunjungan wisata. Masyarakat kini memiliki lebih banyak pilihan tempat berkumpul, terutama setelah kafe dan tempat nongkrong semakin menjamur.

IKLAN

Anggota Komisi III DPRD Kota Mataram, Ismul Hidayat, mendorong pemerintah menghadirkan konsep wisata yang lebih menarik sekaligus edukatif.

Ia mencontohkan pengembangan taman kota tematik yang tidak hanya berfungsi sebagai ruang terbuka, tetapi juga mampu memberikan pengalaman edukasi bagi pengunjung.

“Coba tiru daerah lain. Taman kotanya tematik, jadi taman juga memiliki nilai edukasi,” ujar Ismul, Minggu, 6 September 2026.

IKLAN

Menurutnya, konsep tersebut dapat melibatkan lembaga pendidikan. Ratusan PAUD yang tersebar pada wilayah Kota Mataram menjadi potensi untuk membangun wisata edukasi melalui kolaborasi Dinas Pariwisata bersama Dinas Pendidikan.

“Ratusan PAUD Kota Mataram, tinggal kerja sama Dispar dan Disdik,” katanya.

Destinasi Wisata Minim Perawatan

Sekretaris Komisi I DPRD Kota Mataram, Hj. Baiq Zuhar Parhi, turut mengkritisi kondisi sejumlah destinasi wisata. Ia menilai wajah kawasan wisata masih kalah menarik jika dibandingkan dengan kafe yang menawarkan tempat bersih, nyaman dan tertata.

Pantai Ampenan menjadi salah satu contoh. Sampah masih berserakan meski terdapat Satgas. Kondisi lingkungan juga tampak gersang, sementara sarana dan prasarana belum mendapat perawatan secara optimal.

“Penataannya tidak representatif, kotor, jorok, tidak menarik, sarpras tidak memadai karena tidak dirawat,” ujar Parhie.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat masyarakat memiliki alasan untuk memilih kafe sebagai tempat bersantai. “Kalau kafe lebih menarik, tertata, bersih, dingin atau adem,” katanya.

Selain kebersihan, penataan PKL turut menjadi sorotan. Parhie menilai, lapak pedagang sepanjang akses menuju Loang Balok membuat wajah kawasan wisata tampak semrawut dan kumuh.

“Harusnya Kadis Pariwisata itu paham bagaimana mengembangkan pariwisata, membuat event-event yang layak dijual kepada wisatawan, baik lokal maupun domestik. Coba kita lihat jalan sepanjang Loang Baloq tertutup sama pedagang kaki lima, jadi terlihat kumuh, jorok,” tegasnya.

Persoalan serupa terlihat pada lapak penjual makanan basah. Sebagian pedagang masih menggunakan meja dan perlengkapan sederhana. Tampilan lapak kurang menarik, sementara aspek kebersihan serta higienitas makanan juga perlu mendapat perhatian.

Dewan menilai, pembenahan destinasi wisata harus menyentuh banyak aspek. Pemerintah tidak cukup mengandalkan potensi alam, tetapi perlu menghadirkan lingkungan bersih, fasilitas memadai, penataan pedagang yang rapi, serta kegiatan yang mampu menghidupkan kawasan wisata.

Masyarakat beralih ke Kafe

Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram, Cahya Samudra, menyebut kunjungan menuju sejumlah destinasi unggulan mengalami penurunan. Menurutnya, pertumbuhan kafe membuat masyarakat memiliki semakin banyak alternatif tempat nongkrong.

“Tantangannya memang tongkrongan-tongkrongan ini semakin banyak Kota Mataram. Positifnya banyak titik spot (kafe) baru, tapi ini membuat pengunjung terserap dan terbagi ke beberapa lokasi,” kata Cahya, Kamis, 3 September 2026.

Efisiensi anggaran turut berdampak terhadap penyelenggaraan event pariwisata. Sejumlah agenda yang sebelumnya hadir setiap tahun, seperti Festival Reggae, Sunrise to Sunset, hingga Festival Duren, kini absen. Tahun ini, Dinas Pariwisata hanya menggelar kegiatan peresean. (*)

Artikel Terkait