Cukup Lewat Ponsel, Warga Darmaji Bisa Laporkan Kecelakaan hingga Minta Ambulans
Lombok Tengah (NTBSatu) – Pemerintah Desa (Pemdes) Darmaji, Kecamatan Kopang, terus perkuat transformasi digital melalui berbagai inovasi pelayanan publik.
Salah satu inovasi yang kini membantu masyarakat ialah fitur “Kentongan Online”, yang memungkinkan warga melaporkan keadaan darurat hanya lewat ponsel.
Kepala Desa Darmaji, Suhaidi mengatakan, fitur tersebut mempercepat penanganan berbagai peristiwa, seperti kecelakaan lalu lintas, pencurian, hingga permintaan ambulans.
“Kalau ada kecelakaan atau pencurian, masyarakat tinggal melapor melalui aplikasi. Notifikasi langsung masuk ke HP operator, Babinsa, Bhabinkamtibmas, bahkan saya. Lokasi kejadian juga langsung terlihat,” kata Suhaidi kepada NTBSatu, Selasa 4 Agustus 2026.
Menurutnya, sistem itu memudahkan pemerintah desa mengambil langkah cepat karena petugas segera mengetahui lokasi kejadian.
Suhaidi menjelaskan, warga hanya perlu mengirim laporan melalui aplikasi saat menghadapi kondisi darurat. Setelah menerima notifikasi, operator atau perangkat desa langsung meneruskan informasi kepada petugas yang bertugas, termasuk sopir ambulans.
“Kalau sopir ambulans belum menerima notifikasi, saya langsung menghubunginya supaya segera menuju lokasi,” ujarnya.
Ia menyebut, fitur tersebut telah berjalan sekitar satu tahun sebagai bagian dari pengembangan pelayanan berbasis digital di Desa Darmaji.
Digitalisasi Jangkau Berbagai Sektor
Selain menghadirkan kentongan online, Pemerintah Desa Darmaji juga mengembangkan digitalisasi pada berbagai bidang. Pemerintah desa mulai menyimpan data kependudukan, arsip administrasi, hingga informasi UMKM dalam satu sistem berbasis website.
Melalui sistem itu, masyarakat dapat melihat berbagai informasi, mulai dari jumlah penduduk, data keluarga, UMKM, hingga informasi stunting dan ibu hamil.
Suhaidi menilai digitalisasi membuat pelayanan lebih cepat sekaligus mengurangi penggunaan dokumen kertas. Perangkat desa pun dapat mengakses data kapan saja tanpa harus mencari arsip secara manual.
Meski berbagai layanan digital telah tersedia, Suhaidi mengakui minat masyarakat memanfaatkan layanan mandiri masih belum tinggi. Sebagian warga lebih memilih menggunakan WA Center atau datang langsung ke kantor desa, terutama kalangan lanjut usia.
“Kalau orang tua memang lebih nyaman datang ke kantor. Nanti perangkat desa yang membantu mengakses aplikasi,” katanya.
Karena itu, pemerintah desa terus mengajak masyarakat agar semakin akrab dengan teknologi. Suhaidi berharap kemampuan digital warga terus meningkat sehingga seluruh layanan berbasis digital dapat dimanfaatkan secara maksimal.
“Semua sekarang serba digital. Desa juga harus beradaptasi agar pelayanan semakin modern dan kebutuhan masyarakat bisa terlayani dengan lebih baik,” tutupnya. (*)




