Kemarau Mengering, Gaji Pun Seret: Penjaga Pintu Air Lobar Hadapi Beban Ganda
Lombok Barat (NTBSatu) – Kemarau panjang tak hanya menyulitkan petani memperoleh air, tetapi juga menambah beban kerja penjaga pintu air di Lombok Barat. Mereka harus bekerja lebih ekstra untuk memastikan aliran irigasi tetap berjalan di tengah keterbatasan pasokan air.
Para petugas harus mengatur air yang semakin terbatas. Pada saat bersamaan, sebagian rekan mereka masih menghadapi ketidakjelasan status kepegawaian.
Petugas Bendung Dasan Geres, Muh. Ridho mengatakan, kondisi tersebut membuat pekerjaan penjaga pintu air semakin berat. Ridho juga merupakan salah satu PPPK paruh waktu yang hingga kini belum menerima SK pengangkatan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Barat.
“Dengan keadaan petugas kami yang statusnya juga belum jelas, bikin kami juga pusing,” keluh Ridho, kepada NTBSatu, Minggu, 6 September 2026.
Pasokan Terbatas, Pengawasan Makin Ketat
Ridho mengatakan, petugas mendapat jatah air hanya satu hari satu malam dalam sepekan. Mereka kemudian membagi air kepada wilayah yang bergantung pada bendung.
Kondisi tersebut menuntut petugas mengawasi saluran secara ketat. Sebab, petani juga berusaha mendapatkan air ketika pasokan terbatas. Ridho menyebut, sebagian petani terkadang mengambil air di luar jadwal.
“Petani yang lain juga masuk ke sana, nyuri air itu,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat distribusi air semakin sulit. Petugas harus memastikan pembagian tetap berjalan sesuai jadwal. Padahal, petugas sendiri menghadapi persoalan penghasilan dan status kepegawaian.
Ridho mengatakan, persoalan ekonomi juga memengaruhi kesiapan petugas menjaga pintu air. Ia menyebut, sebagian rekannya tetap bekerja meski status kepegawaiannya belum jelas.
“Mereka masih bekerja, tapi mereka juga perlu makan,” katanya.
Kebutuhan tersebut membuat sebagian petugas harus mencari penghasilan tambahan. Ketika petugas meninggalkan rumah jaga, pengawasan pintu air ikut menghadapi risiko.
Petani kemudian tetap datang mencari air ketika petugas tidak berada di lokasi. Kondisi tersebut dapat mengganggu pembagian air yang sudah terbatas. Ridho menilai situasi tersebut menempatkan penjaga pintu air pada posisi serba sulit.
Hadapi Tekanan di Lapangan
Ridho juga mengungkap sisi lain dari persoalan tersebut. Ia mengatakan kondisi status kepegawaian membuat petugas merasa tidak nyaman ketika berhadapan dengan masyarakat.
“Sedih juga, kecewa juga, malu juga di masyarakat,” ujarnya.
Menurut Ridho, petugas berada di tengah kebutuhan petani dan persoalan internal mereka. Mereka harus menjaga distribusi air tetap berjalan meski menghadapi tekanan ekonomi.
Di sisi lain, petani menuntut air tetap mengalir sesuai kebutuhan. Kondisi tersebut membuat pekerjaan penjaga pintu air tidak sekadar mengatur pintu. Mereka juga harus menjaga hubungan dengan petani ketika pasokan air semakin terbatas.
Pengamat Perairan Kediri, Ida Sulyaningsih mengatakan, petugas memang harus mengawasi pembagian air secara ketat. Ia menyebut sistem giliran menjadi pilihan karena debit air tidak mampu memenuhi seluruh wilayah.
Petugas bahkan mengawasi pintu air selama 24 jam ketika mendapat giliran distribusi. Menurut Ida, keterbatasan air berpotensi memicu gejolak di lapangan.
“Jangan sampai tidak tercukupinya air ini bisa menjadi gejolak di bawah,” kata Ida, Selasa, 2 September 2026 yang lalu.
Karena itu, petugas membutuhkan kondisi kerja yang mendukung pengawasan. Mereka juga membutuhkan kepastian agar tidak meninggalkan lokasi demi mencari penghasilan tambahan.
Persoalan tersebut menjadi semakin penting ketika kemarau menekan debit air. Sebab, sedikit gangguan dalam pengawasan dapat memengaruhi pembagian air kepada petani. (*)




