KesehatanSumbawa Barat

RSUD Asy-Syifa’ Klarifikasi Kronologi Penanganan Anak Panti Penderita Hidrosefalus

Sumbawa Barat (NTBSatu) – Manajemen RSUD Asy-Syifa’ Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) membeberkan rekam medis Nurhayati (9). Pasien merupakan anak asuh Panti Asuhan Baiti Nur Jannah Taliwang yang mengidap hidrosefalus dan epilepsi. Pihak rumah sakit menegaskan bahwa tim medis bekerja sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP). 

Selain itu, depo farmasi menjamin ketersediaan stok obat pasien. Langkah ini meluruskan tuduhan di media sosial. Sebelumnya, narasi liar menyebutkan bahwa pihak rumah sakit mengabaikan pasien hingga keluarga harus berobat ke luar daerah.

Direktur RSUD Asy-Syifa’, Andy Suhaeri, S.ST., M.M.Inov., memberikan penjelasan melalui Kasi Keperawatan, Su’ad, S.Keb. Ia menyatakan, tim medis memberikan perawatan intensif sejak awal. Pasien menjalani rawat inap maupun kontrol rutin jauh sebelum kasus ini tular.

IKLAN

“Kami menangani pasien sejak awal. Stok obat epilepsi dan terapi pendukung di depo farmasi lengkap. Obat selalu tersedia sesuai dosis kontrol pasien,” tegas Su’ad kepada NTBSatu, Rabu, 12 Agustus 2026.

Kronologi Rekam Medis Pasien

Berdasarkan rekam medis per 18 Mei 2026, pasien mendatangi Klinik Anak RSUD Asy-Syifa’. Pemeriksaan awal menunjukkan kondisi fisik pasien stabil tanpa gejala kejang. Oleh karena itu, fasilitas lokal sebenarnya masih memadai untuk penanganan obat dan fisioterapi.

Namun, pasien kemudian melakukan evaluasi lanjutan di Poli Saraf. Saat itu, keluarga pasien mengajukan permintaan rujukan luar daerah. Oleh sebab itu, dokter spesialis saraf memfasilitasi rujukan berjenjang ke RSUP Mataram.

Selanjutnya, pasien melanjutkan pemeriksaan dari RSUP Mataram ke RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah (Sanglah) Bali. Di sana, pasien berkonsultasi dengan spesialis neurologi anak dan menjalani tes Electroencephalography (EEG).

“Hasil EEG per 3 Agustus 2026 mengonfirmasi diagnosis epilepsi. Oleh karena itu, Depo Farmasi RSUD Asy-Syifa’ menjamin ketersediaan terapi obat dari Bali tersebut,” jelasnya.

Ketersediaan Dokter Spesialis di Daerah

Manajemen RSUD membenarkan bahwa faskes daerah belum memiliki spesialis neurologi anak. Meskipun demikian, kolaborasi dokter spesialis anak dan spesialis saraf umum tetap mumpuni. Tim dokter siap melakukan penanganan awal serta perawatan berkala.

“Bukan berarti kami tidak bisa menangani pasien. Dokter spesialis anak dan saraf kami selalu siap. Pasien sebenarnya bisa berobat berkala di sini tanpa kendala,” imbuhnya.

Saat ini, manajemen RSUD menunggu Surat Program Rujukan Balik (PRB) dari rumah sakit di Bali. Surat tersebut menjadi acuan resmi tim medis daerah untuk menyesuaikan dosis obat.

“Pintu pelayanan RSUD Asy-Syifa’ selalu terbuka lebar. Oleh sebab itu, kami mengimbau keluarga melakukan kontrol rutin sekembalinya ke daerah agar proses terapi tidak terputus,” pungkasnya. (*)

Artikel Terkait