Pemprov NTB Perluas Ekspor Non-Tambang, Pastikan Stok Pangan Aman
Mataram (NTBSatu) – Pemprov NTB memperkuat ketahanan ekonomi daerah melalui strategi ganda. Pemprov memperluas ekspor komoditas non-tambang ke pasar internasional. Sekaligus menjaga stabilitas harga dan pasokan bahan pokok di pasar domestik.
Lewat strategi ini, Pemprov NTB menetapkan target ambisius mendongkrak kontribusi ekspor non-tambang hingga menembus angka 20 persen.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi NTB, Lalu Wiranata mengungkapkan, kinerja ekspor non-tambang daerah terus menunjukkan tren positif. Porsi ekspor non-tambang yang sebelumnya hanya berkisar 3 persen kini merangkak naik menjadi 7 persen.
Sejumlah produk unggulan lokal pun siap menembus pasar global. Wiranata menjadwalkan, pengiriman komoditas kemiri ke Jepang serta Vanili ke Amerika Serikat. Selain itu, petani lokal berhasil mengekspor 112 ton tembakau grade bawah ke Libya.
Permintaan kerajinan ketak ke pasar Eropa dan ASEAN juga melonjak hingga lima kontainer. Sementara itu, produk Virgin Coconut Oil (VCO) sukses menembus pasar Mesir. Pelaku UMKM lokal telah mengirimkan 60 unit produk olahan ke Selandia Baru.
Wiranata menegaskan, dinamika politik dan konflik global tidak menyurutkan minat pembeli asing terhadap produk NTB.
“Ternyata isu-isu perang itu enggak ngaruh. Di produk kita kok enggak ada malah banyak yang minta. Buyer-buyer luar negeri masih ke sini, jadi enggak khawatir kita sekarang kalau ada perang di jauh-jauh itu, masih bisa kita jualan,” ujar Wiranata, Rabu, 22 September 2026.
Untuk menjaga keberlanjutan pasokan sekaligus menekan angka kemiskinan, Disperindag NTB kini mendampingi lebih dari 30 Desa Ekspor. Program ini mewajibkan para pelaku usaha menyerap tenaga kerja dari kelompok masyarakat berkategori miskin ekstrem.
“Ini di Desa Ekspor yang kita dampingi ini, sedapat mungkin mereka pekerjaannya itu libatkan miskin ekstrem di situ,” kata Wiranata.
Pasokan Pangan Aman, Fluktuasi Harga Terkendali
Di tingkat domestik, Wiranata memastikan ketersediaan bahan pokok di pasar tradisional berada dalam kondisi aman dan mencukupi. Meski demikian, beberapa komoditas masih mengalami pergerakan harga secara periodik.
Penurunan pasokan menyebabkan harga cabai merah keriting melonjak paling tinggi, yakni naik 7 persen menjadi Rp39.317 per kilogram. Tingginya permintaan pasar juga mendorong kenaikan tipis sekitar 3 persen pada harga cabai rawit merah, cabai rawit hijau, dan bawang merah. Selain itu, pedagang menjual tomat seharga Rp11.967 per kilogram dan ikan bandeng Rp45.714 per kilogram.
Kendati terdapat penyesuaian harga, Wiranata menilai kondisi pasar tradisional secara umum masih relatif stabil.
“Komoditas yang mengalami kenaikan kelompok cabai, bawang, sayuran. Tapi naiknya enggak banyak, hanya 2.800. Jadi insyaallah masih stabil lah ini,” terangnya.
Di sisi lain, melimpahnya stok justru menurunkan harga sejumlah komoditas. Harga cabai merah besar turun menjadi Rp27.933 per kilogram, daging ayam ras menjadi Rp47.500 per kilogram, dan ketimun menjadi Rp8.300 per kilogram.
Sementara itu, harga komoditas utama lainnya bertahan stabil. Daging sapi paha belakang bertahan di angka Rp137.778 per kilogram, telur ayam ras Rp28.633 per kilogram, dan gula pasir curah Rp16.722 per kilogram. Disperindag NTB juga menjamin stok beras tetap aman di pasaran. (Japriani)




