Tanggapi Fenomena Pria Berbusana Wanita di Lomba HUT RI, Pemkot Mataram: Buat yang Normal-Normal Saja
Mataram (NTBSatu) — Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram menanggapi fenomena pria mengenakan pakaian wanita atau crossdressing dalam sejumlah lomba gerak jalan maupun karnaval perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Asisten I Setda Kota Mataram, Lalu Martawang, mengimbau masyarakat agar memeriahkan HUT RI dengan kegiatan yang tetap menjunjung etika, moral, tata kesopanan, serta memberikan nilai edukasi, khususnya bagi anak-anak.
Menurutnya, Pemkot Mataram telah mematangkan persiapan rangkaian upacara resmi HUT RI yang akan pusatnya di Lapangan Sangkareang. Agenda tersebut meliputi upacara pengibaran hingga penurunan bendera.
“Pemerintah Kota Mataram menyiapkan pelaksanaan apel 17 Agustus di Lapangan Sangkareang. Baik untuk agenda pengibaran bendera maupun penurunan bendera,” ujar Lalu Martawang, Jumat, 14 Agustus 2026.
Di luar agenda resmi pemerintah, Martawang mendorong masyarakat di tingkat RT, RW, hingga kelurahan untuk turut menghidupkan suasana kemerdekaan melalui berbagai kegiatan. Termasuk tradisi lokal dan perlombaan yang dapat mempererat silaturahmi antarwarga.
Namun, ia mengingatkan agar kreativitas dalam membuat perlombaan tidak mengabaikan norma yang berlaku di tengah masyarakat.
Hindari Lomba yang Keluar dari Norma
Pernyataan tersebut disampaikan Martawang di tengah fenomena sejumlah kegiatan perayaan HUT RI yang menampilkan pria mengenakan pakaian wanita dalam lomba gerak jalan atau kegiatan hiburan lainnya.
Ia meminta masyarakat memilih bentuk hiburan yang tetap sesuai dengan etika, moral, tata kesopanan, dan nilai-nilai edukatif.
“Ayo kita melaksanakan perayaan sesuai etika, moral, tata kesopanan, serta saling menghargai. Jangan ada event yang menunjukkan sesuatu di luar normalitas. Ayo buat yang normal-normal saja, yang bisa memberikan edukasi kepada anak-anak kita,” tegasnya.
Martawang menilai perayaan kemerdekaan tidak semata-mata menjadi ajang hiburan, tetapi juga dapat menjadi momentum untuk memberikan contoh positif kepada generasi muda.
Tekankan Keteladanan bagi Anak
Ia khawatir apabila kegiatan yang digelar dalam momentum HUT RI justru menampilkan hal-hal yang dianggap tidak sesuai dengan norma masyarakat, anak-anak dapat melihatnya sebagai sesuatu yang lumrah.
Karena itu, ia mengajak masyarakat mengemas perayaan kemerdekaan dengan kegiatan yang positif, kreatif, dan tetap memiliki nilai edukasi.
“Normalitas ini penting karena ke depan kita ingin menjadi bangsa yang normal, bangsa yang kuat, gagah, dan percaya diri. Jangan sampai hanya demi guyonan, kita memberikan contoh yang merusak,” pungkasnya. (*)




