Ratusan Perkutut Berlaga di RTH Pagutan, Hobi Kung Mania Gerakkan Ekonomi hingga Miliaran Rupiah
Mataram (NTBSatu) – Suara anggungan ratusan burung perkutut menggema dari Ruang Terbuka Hijau (RTH) Pagutan, Kota Mataram, Minggu, 23 Agustus 2026.
Para penghobi atau kung mania berkumpul mengikuti Wali Kota Mataram Cup V yang sekaligus menjadi rangkaian Liga Perkutut Lombok (LPL).
Sekitar 160 peserta membawa burung andalan mereka untuk bersaing pada kategori Senior, Junior, serta Piyik/Pembibitan.
Ketua Panitia, Mansur mengatakan, kegiatan tersebut selaras dengan semangat HUT Kota Mataram, “Merawat Kota, Menumbuhkan Harapan.”
Menurutnya, semangat itu dapat tumbuh melalui kolaborasi antara komunitas, UMKM, pelaku ekonomi kreatif, dan masyarakat.
“Merawat kota ini artinya merawat nilai, ruang, dan kehidupan masyarakat. Menumbuhkan harapan membutuhkan kolaborasi dan kerja sama. Event ini melibatkan UMKM, sektor ekonomi kreatif, hingga kawasan wisata,” ujar Mansur, Minggu, 23 Agustus 2026.
Menurut Mansur, komunitas kung mania memiliki potensi besar untuk menggerakkan ekonomi lokal. Setiap perlombaan menciptakan kebutuhan baru, mulai dari burung berkualitas, pakan, sangkar, perlengkapan perawatan, transportasi, konsumsi, hingga kebutuhan peserta selama mengikuti kegiatan.
Sudaryono, salah seorang penghobi sekaligus peternak perkutut, melihat peluang tersebut sebagai ladang usaha. Ia kini mengelola sekitar 50 kandang penangkaran dan menghasilkan burung untuk memenuhi kebutuhan para penghobi.
Pasarnya tidak hanya berasal dari Lombok. Sudaryono juga mengirim burung hasil ternaknya ke Pulau Jawa untuk mengikuti berbagai kontes tingkat nasional.
Menurut Sudaryono, penghobi pemula bisa mulai memelihara perkutut dengan modal sekitar Rp500 ribu hingga Rp2 juta per ekor. Sementara burung berkualitas lomba memiliki nilai jual mulai Rp5 juta ke atas, bergantung pada kualitas dan prestasinya.
“Untuk pemula yang baru mau mulai memelihara perkutut, harganya sekitar Rp500 ribu sampai Rp2 juta. Kalau sudah kualitas lomba, bisa Rp5 juta ke atas,” jelas Sudaryono.
Nilai jual tersebut menunjukkan bahwa hobi perkutut telah berkembang menjadi peluang ekonomi. Penangkar memperoleh pendapatan dari penjualan burung, sementara penghobi memiliki peluang meningkatkan nilai burung melalui perawatan dan prestasi kontes.
RTH Pagutan Jadi Ruang Pertemuan Ekonomi Komunitas
Mansur mengatakan, fungsi RTH Pagutan bukan hanya sebagai ruang publik, tetapi juga sebagai tempat bertemunya komunitas dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Peserta yang datang dari berbagai wilayah membutuhkan transportasi, konsumsi, pakan, perlengkapan burung, hingga akomodasi. Pelaku UMKM pun memperoleh kesempatan menjangkau konsumen baru selama kegiatan berlangsung.
Aktivitas ekonomi juga berlanjut setelah perlombaan. Para penghobi tetap melakukan transaksi burung, mencari bibit unggulan, membeli perlengkapan, serta menjalin kerja sama dengan penangkar.
Rantai usaha yang panjang tersebut menciptakan multiplier effect bagi masyarakat.
“Pengrajin sangkar turut mendapat manfaat dari perkembangan komunitas. Begitu pula peternak dan penjual pakan yang memasok kebutuhan para penghobi. Kalau dihitung bisa mencapai miliaran rupiah,” ujarnya. (*)




