Kota Mataram

Lawang Selaparang dan Masa Depan Budaya Mataram

Mataram (NTBSatu) – Masa depan budaya sebuah kota tidak hanya bergantung pada kemampuan menjaga tradisi. Lebih dari itu, budaya membutuhkan ruang agar generasi muda dapat mengenal, menghidupkan, dan memberi makna baru pada warisan yang mereka miliki.

Lawang Selaparang mencoba mengambil peran tersebut. Festival budaya yang digagas Karang Taruna Kecamatan Selaparang, Kota Mataram, ini telah berlangsung tiga kali sejak 2024. Gelaran ketiga berlangsung pada 22–23 Agustus 2026, Teras Udayana Mataram.

Tiga kali penyelenggaraan menunjukkan Lawang Selaparang mulai menemukan bentuknya. Festival ini bukan sekadar panggung kesenian, melainkan ruang perjumpaan antara budaya, sejarah, kreativitas generasi muda, kepedulian lingkungan, dan kebersamaan warga.

IKLAN

Camat Selaparang, Mulya Hidayat, mengatakan nama Lawang Selaparang memiliki filosofi kuat. Dalam bahasa Sasak, lawang berarti pintu.

“Lawang itu artinya pintu. Kami memaknainya sebagai pintu masuk untuk menggali dan menampilkan berbagai potensi yang ada di Kecamatan Selaparang,” kata Mulya, Rabu, 2 September 2026.

Cerita untuk Semua Generasi

Menurut Mulya, potensi Selaparang tidak berhenti pada kesenian tradisional. Sumber daya manusia, sejarah, kreativitas anak muda, lingkungan, hingga kekuatan sosial masyarakat juga membutuhkan ruang.

IKLAN

“Jadi bukan hanya kesenian yang kita tampilkan. Ada sejarah, budaya, kreativitas anak-anak muda, lingkungan, kesehatan, dan bagaimana masyarakat bisa berkumpul serta saling mengenal,” ujarnya.

Makna itu terlihat dari keterlibatan berbagai generasi. Anak-anak mendapat kesempatan berekspresi. Kaum muda memperoleh ruang untuk berkreasi dan berorganisasi. Sementara orang tua dapat kembali mengenalkan tradisi serta sejarah kepada generasi berikutnya.

Salah satu contohnya muncul melalui pertunjukan wayang botol oleh siswa SD Negeri 122 Mataram. Para siswa menggunakan botol plastik sebagai media pertunjukan sekaligus menyampaikan pesan agar masyarakat tidak membuang sampah sembarangan.

Bagi Mulya, kreativitas seperti itu menunjukkan bahwa budaya dapat menjadi sarana edukasi. “Anak-anak kita berikan ruang untuk berkreasi. Wayang botol itu sederhana, tetapi pesannya sangat kuat. Mereka mengajak masyarakat menjaga lingkungan melalui seni,” katanya.

Ia menilai generasi muda harus menjadi bagian utama dalam keberlanjutan budaya. “Anak-anak muda harus punya ruang. Mereka jangan hanya menjadi penonton. Mereka harus menjadi pelaku, karena dari sana kreativitas dan rasa memiliki terhadap daerah bisa tumbuh,” ujar Mulya.

Menjaga Ingatan Mataram

Lawang Selaparang juga membuka ruang bagi masyarakat untuk mengenal kembali sejarah Mataram. Pameran foto-foto lawas dan bincang mengenai revitalisasi sejarah serta budaya lokal menjadi bagian penting dari festival.

Bagi Mulya, pengenalan sejarah kepada generasi muda merupakan bagian dari menjaga identitas kota.

“Kita ingin generasi sekarang tahu, daerah ini punya cerita, punya sejarah, dan punya budaya yang harus dirawat. Kalau tidak dikenalkan sejak sekarang, lama-lama bisa hilang,” katanya.

Gagasan tersebut membuat Lawang Selaparang memiliki manfaat yang lebih panjang daripada sekadar hiburan. Festival menjadi ruang belajar, ruang bertemu, sekaligus ruang bagi masyarakat untuk membangun rasa memiliki terhadap daerahnya.

Sejak pertama muncul pada 2024, Lawang Selaparang terus berkembang. Jilid kedua pada 2025 mengusung tema “Kebersamaan dan Kolaborasi”. Tahun ini, penyelenggara membawa tema “Wellness Culture Festival”.

Perubahan tema tersebut memberi ruang bagi festival untuk berkembang tanpa meninggalkan akar budaya lokal.

Saatnya Menjadi Event Tetap

Setelah tiga kali pelaksanaan, Lawang Selaparang menghadapi tantangan berikutnya, menjaga keberlanjutan.

Festival ini perlu tumbuh menjadi agenda tetap Kota Mataram, bukan sekadar kegiatan yang hadir setiap Agustus lalu berhenti setelah rangkaian acara selesai.

Mulya berharap Lawang Selaparang dapat menjadi event yang selalu dinantikan masyarakat. “Harapannya Lawang Selaparang ini bukan hanya kegiatan yang muncul ketika Agustus. Kalau bisa, menjadi event tetap yang setiap tahun ditunggu masyarakat,” tegasnya.

Konsistensi, menurut Mulya, akan membangun identitas festival sekaligus rasa memiliki masyarakat.

“Kalau ini konsisten, kita bisa membangun identitasnya. Masyarakat tahu bahwa setiap tahun ada Lawang Selaparang. Ada budaya, ada kreativitas anak muda, ada sejarah, ada kegiatan sosial. Itu yang ingin kita bangun,” katanya.

Status sebagai event tetap juga akan membuka peluang lebih besar bagi komunitas seni, pelajar, pemuda, pelaku usaha, dan berbagai kelompok masyarakat untuk terlibat.

“Yang paling penting adalah manfaatnya untuk masyarakat. Kita ingin ada ruang bertemu, ruang berkreasi, ruang belajar, sekaligus ruang untuk memperkenalkan potensi Selaparang,” ujar Mulya. (*)

Artikel Terkait