AdvertorialPendidikan

Alumni Unram Kawal Standar Kesejahteraan Hewan di Rantai Pasok Sapi Australia-Indonesia

Mataram (NTBSatu) – Perhatian dunia terhadap keamanan pangan, kesejahteraan hewan (animal welfare), serta keberlanjutan industri peternakan terus meningkat.

Kondisi tersebut mendorong kebutuhan tenaga profesional yang mampu mengawal penerapan standar internasional pada setiap tahapan rantai pasok.

Salah seorang alumni Universitas Mataram (Unram) yang berkiprah pada bidang tersebut yakni Agil Darmawan.

IKLAN

Lulusan Program Studi Peternakan Unram itu kini menjabat sebagai Supply Chain Officer/Animal Welfare Officer pada Halleen Australasian Livestock Traders Pty Ltd, perusahaan eksportir sapi hidup asal Perth, Western Australia.

Agil mengawal penerapan standar kesejahteraan hewan selama proses rantai pasok sapi hidup dari Australia menuju Indonesia. Ia juga memastikan seluruh tahapan memenuhi ketentuan Exporter Supply Chain Assurance System (ESCAS) yang menjadi standar perdagangan internasional.

Tugas Agil tidak hanya mengawasi kelancaran distribusi sapi. Ia turut memastikan setiap hewan memperoleh perlakuan sesuai prinsip kesejahteraan hewan, memiliki sistem ketertelusuran (traceability) yang jelas, serta melalui proses penanganan sesuai standar internasional.

Selain itu, ia memberikan pelatihan, pendampingan, hingga evaluasi kepada berbagai fasilitas dan mitra dalam rantai pasok agar penerapan standar tetap konsisten.

Berawal dari Magang Internasional

Perjalanan karier Agil bermula saat masih menempuh pendidikan pada Fakultas Peternakan Unram. Pada 2016, ia mengikuti NTCA Indonesia–Australia Pastoral Program (NIAPP), program magang yang memberinya pengalaman langsung pada industri peternakan Australia sekaligus memperluas jejaring profesional.

Setelah lulus pada 2019, Agil melanjutkan langkah melalui Fresh Graduate Program yang terselenggara atas kerja sama Red Meat and Cattle Partnership (RMCP).

Program tersebut membuka kesempatan magang pada Halleen Australasian Livestock Traders Pty Ltd hingga akhirnya perusahaan mempercayakan posisi Supply Chain Officer/Animal Welfare Officer kepadanya.

Menurut Agil, bekal ilmu peternakan selama kuliah menjadi modal penting dalam memahami industri yang kini ia tekuni. Namun, pengalaman organisasi, program magang, dan jaringan profesional juga memberi pengaruh besar terhadap perkembangan kariernya.

Ia mengaku tantangan terbesar bukan hanya berasal dari aspek teknis pekerjaan. Kemampuan beradaptasi dengan bahasa, budaya, serta karakter masyarakat pada berbagai daerah di Indonesia juga menjadi kunci agar komunikasi dengan peternak, pekerja lapangan, perusahaan, dan mitra internasional tetap berjalan baik.

Agil menilai, industri peternakan saat ini bergerak menuju sistem yang lebih modern, transparan, dan berkelanjutan. Menurutnya, aspek keamanan pangan, kesejahteraan hewan, biosekuriti, serta ketertelusuran menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing perdagangan global. Karena itu, kebutuhan tenaga profesional yang memahami aspek teknis peternakan sekaligus standar internasional akan terus meningkat.

Agil juga mengajak mahasiswa Unram agar berani mengejar peluang dan terus meningkatkan kompetensi.

“Jangan pernah merasa minder dengan latar belakang atau asal daerah kita. Terus tingkatkan kompetensi, jaga integritas, dan manfaatkan setiap kesempatan yang datang. Dunia kerja semakin terbuka bagi siapa saja yang mau terus belajar dan berani mengambil peluang,” ungkapnya, Kamis, 2 Juli 2026.

Kisah Agil menunjukkan bahwa pengalaman magang, kemauan belajar, serta keberanian memanfaatkan peluang mampu membuka jalan menuju karier internasional.

Kiprahnya juga membuktikan bahwa alumni Unram mampu berkontribusi menjaga standar kesejahteraan hewan sekaligus memperkuat rantai pasok peternakan berstandar global. (*)

Atim Laili

Jurnalis NTBSatu

Artikel Terkait