Warga Sembalun Tegaskan Tidak Tuntut Donasi Agam ‘Rinjani’, Hanya Minta Transparansi
Mataram (NTBSatu) – Salah seorang warga lingkar Rinjani, Royall Sembahulun menegaskan, ia sama sekali tidak menuntut uang hasil donasi dari Agam ‘Rinjani’.
Dalam siniar bersama NTBSatu, Royall menyebutkan langkah tersebut murni untuk menuntut transparansi moral dan akuntabilitas pengelolaan dana publik demi kebaikan ekosistem pariwisata Rinjani ke depannya.
“Kami tidak mengharapkan sepeser pun uang dari yang Agam dapatkan dari donasi. Dia tahu saya bagaimana, sehingga pada prinsipnya kita tidak ingin memelihara permusuhan,” ujarnya dalam siniar NTBSatu pada Sabtu, 27 Juni 2026.
Selanjutnya, Royal menjelaskan bahwa komunikasi antara Agam dan komunitas lokal sebenarnya sangat intens sebelum ia viral di media sosial.
Oleh karena itu, Royal menyayangkan sikap Agam yang kini menutup diri dan sulit merespons kebutuhan profesional sesama pekerja di Rinjani. Padahal, akuntabilitas moral sangat melekat padanya yang tumbuh dari sistem pendukung komunitas pariwisata setempat.
Persoalan Klaim Sepihak Dana Perbaikan Jalur
Dalam polemik ini, masalah utama yang memicu gejolaknya adalah adanya simpang siur informasi mengenai sumbangan perbaikan jalur pendakian Rinjani. Dalam video yang beredar, Agam mengklaim telah menyumbang untuk perbaikan jalur tersebut.
Namun, Royall mengaku mendapatkan fakta yang berbeda setelah melakukan konfirmasi langsung ke pihak Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR).
“Kami konfirmasi ke pihak Taman Nasional, ternyata uang itu sumbangannya dari Bank Danamon, bukan dari Agam,” lanjutnya.
Mendesak Dialog Terbuka demi Masa Depan Rinjani
Di samping itu, Royall juga mengatakan komunitas warga dan pemandu wisata Sembalun kini mendesak Agam untuk duduk bersama dalam forum terbuka. Mereka ingin meluruskan seluruh miskomunikasi yang selama ini berkembang liar di media sosial. Ini bertujuan agar tidak memicu pro dan kontra berkepanjangan di tengah masyarakat.
Salah satu direktur dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) juga sedang berupaya untuk mempertemukan kedua belah pihak.
Oleh karena itu, Royall Sembahulun berharap Agam segera menyambut baik rencana pertemuan tersebut dan tidak memilih bungkam. Terutama mengingat keberadaan pemandu wisata dan seluruh elemen lokal merupakan satu kesatuan ekosistem pariwisata Rinjani yang tidak terpisahkan.(*)




