Sumbawa

Wujudkan Sumbawa Hijau Lestari, Bupati Jarot Ajak Warga Jaga Hutan

Sumbawa Besar (NTBSatu) – Bupati Sumbawa, Syarafuddin Jarot, mengingatkan kerusakan hutan tidak lagi bisa dipandang sebagai persoalan lingkungan semata. Menurutnya, hilangnya tutupan hutan akan berdampak langsung terhadap ketersediaan air, produktivitas pertanian, hingga meningkatnya risiko banjir yang mengancam kehidupan masyarakat.

Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam Program Sumbawa Hijau Lestari. Program strategis daerah yang masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Sumbawa 2025–2029.

Bupati Jarot mengungkapkan, kondisi hutan di Sumbawa saat ini menghadapi tekanan yang serius. Berdasarkan data Global Forest Watch, Provinsi NTB kehilangan sekitar 110 ribu hektare tutupan pohon sepanjang periode 2001–2025. Dari jumlah itu, Kabupaten Sumbawa tercatat sebagai daerah dengan kehilangan tutupan pohon terbesar. Mencapai sekitar 36 ribu hektare.

IKLAN

“Angka ini harus menjadi alarm bagi kita semua. Ketika tutupan hutan berkurang, maka kemampuan alam menyimpan air juga ikut menurun. Dan yang merasakan langsung dampaknya adalah masyarakat,” kata Bupati Jarot, Rabu 11 Juni 2026.

Menurutnya, kawasan Batulanteh memiliki peran vital bagi keberlangsungan hidup masyarakat Sumbawa karena menjadi daerah tangkapan air utama yang memasok kebutuhan air bersih dan menopang sektor pertanian.

“Batulanteh adalah jantung sumber air Sumbawa. Jika kawasan ini rusak, maka yang terancam bukan hanya ekosistem hutan, tetapi juga masa depan pertanian, ketersediaan air bersih, dan kehidupan masyarakat secara luas,” tegasnya.

IKLAN

Bupati Jarot menjelaskan, berbagai aktivitas seperti pembukaan lahan di kawasan perbukitan, perambahan hutan, dan berkurangnya vegetasi permanen telah menyebabkan menurunnya kemampuan tanah menyerap dan menyimpan air hujan.

“Saat hutan kehilangan tutupannya, air hujan tidak lagi tersimpan dengan baik. Air akan langsung mengalir ke sungai dan meningkatkan risiko banjir. Sebaliknya saat kemarau, masyarakat akan menghadapi penurunan debit air,” ujarnya.

Ancaman Banjir

Ia menilai banjir yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Sumbawa pada awal tahun 2026 menjadi bukti nyata bahwa kerusakan lingkungan di kawasan hulu memberikan dampak langsung kepada masyarakat di daerah hilir.

“Banjir yang terjadi di beberapa wilayah, termasuk Empang, harus menjadi pelajaran bersama. Kerusakan di hulu pada akhirnya dibayar mahal oleh masyarakat melalui rusaknya rumah, lahan pertanian, irigasi, jalan, dan fasilitas umum,” ungkapnya.

Data pemerintah mencatat banjir di Kecamatan Empang berdampak pada sekitar 1.215 kepala keluarga atau lebih dari 3.600 jiwa. Selain merendam permukiman warga, bencana tersebut juga menyebabkan kerusakan infrastruktur dan lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Sebagai langkah konkret, Pemerintah Kabupaten Sumbawa meluncurkan Program Sumbawa Hijau Lestari yang tidak hanya berfokus pada penanaman pohon, tetapi juga mencakup perlindungan kawasan hutan, rehabilitasi lahan kritis, pemberdayaan masyarakat, hingga pengembangan ekonomi berbasis konservasi.

“Program ini bukan sekadar gerakan menanam pohon. Ini adalah upaya menyeluruh untuk melindungi hutan, memulihkan lahan kritis, memperkuat peran masyarakat, dan memastikan pembangunan tetap berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan,” jelasnya.

Program tersebut dibangun melalui lima fokus utama, yakni perlindungan dan pengamanan hutan, restorasi lahan kritis berbasis tanaman ekonomi, gerakan Safari Menanam Pohon, pemberian insentif bagi pelaku konservasi, serta penguatan kelembagaan dan kolaborasi lintas sektor.

Perlu Kolaborasi

Bupati Jarot menegaskan keberhasilan program tersebut tidak mungkin dicapai hanya oleh pemerintah. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terlibat aktif menjaga kelestarian hutan Sumbawa.

“Kami mengajak pemerintah desa, pelajar, ASN, dunia usaha, tokoh agama, komunitas lingkungan, dan seluruh masyarakat untuk bergerak bersama. Menjaga hutan bukan tugas pemerintah semata, tetapi tanggung jawab kita semua,” katanya.

Menurutnya, menjaga hutan sejatinya adalah menjaga sumber kehidupan masyarakat itu sendiri.

“Ketika kita menjaga hutan, kita sedang menjaga air yang kita minum, menjaga sawah yang menghasilkan pangan, menjaga masyarakat dari ancaman bencana, dan menjaga masa depan generasi yang akan datang,” tambahnya.

Ia berharap Program Sumbawa Hijau Lestari dapat menjadi gerakan kolektif yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat demi mewariskan lingkungan yang lebih baik kepada generasi mendatang.

“Sumbawa Hijau Lestari bukan sekadar program pemerintah. Ini adalah ikhtiar bersama untuk memastikan anak cucu kita tetap mewarisi Sumbawa yang hijau, produktif, dan memiliki sumber daya air yang terjaga,” pungkasnya. (*)

Artikel Terkait