DLH Kota Mataram Kaji Insinerator Rp3,5 Miliar untuk Tuntaskan Sampah Pasar
Mataram (NTBSatu) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, mengkaji pengadaan insinerator senilai Rp3,5 miliar sebagai solusi penanganan sampah pasar.
Satu unit mesin berkapasitas 10 ton per hari itu berpeluang melayani dua pasar sekaligus, dan mengurangi volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) maupun Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Kepala DLH Kota Mataram, Nizar Denny Cahyadi mengatakan, insinerator menjadi salah satu opsi yang tengah dalam pengkajian untuk menjawab tingginya produksi sampah pasar tradisional.
“Kalau menurut saya, jika kondisi fiskal Pemerintah Kota Mataram sudah normal, pasar yang besar itu satu insinerator sudah bisa menyelesaikan sampahnya langsung di tempat. Jadi tidak lagi ada pengangkutan sampah pasar ke TPS atau TPA, sudah selesai dari pasar,” ujarnya, Senin, 8 Juni 2026.
Menurut Denny, penggunaan insinerator memungkinkan pengelolaan sampah berlangsung dari sumber, sehingga kebutuhan pengangkutan sampah dapat berkurang.
Ia menyebut, harga satu unit insinerator berkisar Rp3,5 miliar dengan kapasitas pengolahan mencapai 10 ton sampah per hari.
“Bisa jadi dua pasar dibuatkan satu insinerator nanti,” katanya.
Kapasitas tersebut membuka peluang penggunaan bersama untuk beberapa pasar. Skema itu juga dapat menghemat kebutuhan anggaran, karena satu fasilitas mampu menangani sampah lebih dari satu lokasi.
Sebagai gambaran, produksi sampah Pasar Kebon Roek mencapai hampir 5 ton per hari. “Seperti Kebon Roek itu hampir 5 ton per hari,” ungkap Denny.
Satu Insinerator untuk Dua Pasar
Volume tersebut masih berada jauh bawah kapasitas maksimal insinerator. Dengan kapasitas 10 ton per hari, satu unit mesin masih memiliki ruang untuk dua pasar sekaligus.
Selain insinerator, DLH juga mempelajari pemanfaatan biogas sebagai alternatif pengolahan sampah organik pasar. Kajian tersebut mencari teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan pengelolaan sampah Kota Mataram, serta kemampuan keuangan daerah.
Denny menegaskan, rencana tersebut belum bisa direalisasikan tahun ini karena keterbatasan anggaran. Pihaknya masih melakukan evaluasi dan pendalaman berbagai aspek teknis sebelum mengajukan program tersebut.
“Tahun ini kan belum ada anggarannya itu, jadi kita evaluasi dulu, kita pelajari dulu, kira-kira tahun depan bisa enggak kita aplikasikan itu. Kalau itu tahun depan bisa diaplikasikan, maka sampah pasar itu bisa jauh lebih kita kurangi,” jelasnya.
Saat ini, DLH masih memetakan kebutuhan, lokasi, serta skema operasional yang paling tepat. Jika hasil kajian menunjukkan prospek yang baik dan dukungan anggaran tersedia, program pengolahan sampah pasar berbasis insinerator berpeluang mulai berjalan secara bertahap tahun depan. (*)




