Keunikan Air Terjun Benang Kelambu Jadi Magnet Wisatawan Lokal hingga Mancanegara
Lombok Tengah (NTBSatu) – Di tengah menjamurnya destinasi wisata baru di Pulau Lombok, Air Terjun Benang Stokel dan Benang Kelambu di Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah, masih menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan.
Sekretaris Pengelola Benang Stokel dan Benang Kelambu, Marwi mengatakan, daya tarik utama destinasi tersebut terletak pada keunikan alamnya. Tempat lain masih banyak belum memilikinya.
Menurutnya, Benang Kelambu memiliki karakteristik air terjun yang berbeda dari kebanyakan air terjun pada umumnya. Air yang mengalir berasal langsung dari mata air yang muncul dari lereng bukit. Sehingga membentuk tirai-tirai air menyerupai kelambu.
“Waktu asesor UNESCO datang, mereka menyampaikan bahwa Benang Kelambu ini unik. Airnya bukan berasal dari aliran sungai seperti kebanyakan air terjun, tetapi keluar langsung dari perut bumi,” kata Marwi kepada NTBSatu, Kamis, 4 Juni 2026.
Marwi mengaku sempat membandingkan Benang Kelambu dengan sejumlah air terjun terkenal di dunia. Namun, menurut penjelasan asesor UNESCO, keunikan sumber air yang muncul langsung dari tebing menjadi nilai tersendiri yang membuat Benang Kelambu berbeda.
Selain keunikan alamnya, kawasan tersebut juga mendapat pengakuan di tingkat nasional maupun internasional. Kawasan pengelolaan masyarakat di sekitar Benang Stokel dan Benang Kelambu pernah meraih penghargaan tingkat nasional. Serta menjadi bagian dari kawasan cagar biosfer dan Geopark Rinjani yang diakui UNESCO.
Pengakuan tersebut membuat kawasan wisata itu kerap menjadi tujuan kunjungan berbagai pihak dari luar daerah hingga luar negeri.
“Banyak yang datang untuk belajar. Ada dari Malaysia, Korea, sampai beberapa negara lainnya. Mereka ingin melihat bagaimana pengelolaan wisata berbasis komunitas yang kami lakukan di sini,” ujarnya.
Kunjungan Meningkat di Bulan Tertentu
Menurut Marwi, kunjungan wisatawan mancanegara biasanya meningkat pada periode Juni hingga Agustus setiap tahun. Pada periode tersebut, wisatawan asing mendominasi kunjungan ke Benang Stokel dan Benang Kelambu.
Sementara di luar musim tersebut, wisatawan domestik masih menjadi penyumbang terbesar jumlah kunjungan, terutama saat akhir pekan dan hari-hari besar nasional.
Meski demikian, ia mengaku masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu mendapat perhatian, salah satunya terkait infrastruktur menuju lokasi wisata.
Menurutnya, meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan belum sepenuhnya diimbangi dengan kondisi akses jalan yang memadai, terutama untuk kendaraan berukuran besar.
“Kendala utama kami saat ini masih infrastruktur. Kadang-kadang bus besar harus kami bantu atur karena kondisi jalan yang ada,” katanya.
Ke depan, pihak pengelola berharap pengembangan kawasan wisata tidak hanya berfokus pada Benang Stokel dan Benang Kelambu, tetapi juga mampu mendorong tumbuhnya destinasi-destinasi lain di sekitar kawasan Rinjani.
Dengan demikian, manfaat sektor pariwisata dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat di berbagai desa penyangga kawasan wisata tersebut. (*)




