Polisi Periksa Santri Korban Pembakaran di Ponpes Lombok Tengah
Mataram (NTBSatu) – Polisi mulai menyelidiki dugaan pembakaran terhadap tiga santri di Ponpes Rosyidatushaulatiyyah Al-Ibrahimi NW, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah.
Kasat Reskrim Polres Lombok Tengah, AKP Punguan Hutahaean mengatakan, pihaknya kini telah turun lapangan untuk memeriksa sejumlah saksi. “Kemarin pada Rabu, kami telah melakukan interogasi lisan terhadap salah satu anak korban dan ayahnya,” jelasnya, Kamis 4 Juni 2026.
Selain meminta keterangan korban dan orang tuanya, kepolisian juga mengambil dokumentasi kondisi luka fisik pada korban.
Punguan mengaku, saat ini pihaknya belum meminta keterangan atau mendatangi ponpes tempat korban mengenyam pendidikan. Kendati demikian, ia membenarkan jumlah santri yang menjadi korban dalam kasus ini berjumlah tiga orang.
Menyinggung adanya informasi salah satu korban meninggal dunia, Punguan mengaku pihaknya perlu melakukan pendalaman lebih lanjut.
“Selanjutnya kami akan melakukan penyelidikan lebih lanjut. Untuk detailnya tidak bisa saya sampaikan. Yang pasti dilakukan percepatan (penanganan),” tegasnya.
Ponpes Bantah Tudingan Insiden Pembakaran
Sementara pihak Rosyidatushaulatiyyah Al-Ibrahimi NW membantah, Lombok Tengah membatah tudingan tiga santri menjadi korban penyiraman bensin sebelum insiden pembakaran.
Ketua Yayasan Rosyidatushaulatiyyah Al-Ibrahimi NW, TGH Ahmad Muzakki Rahmatullah menyebut, insiden yang terjadi pada Desember 2025 tersebut merupakan kecelakaan. Pemicunya, sejumlah santri kala itu bermain api menggunakan bensin di salah satu kamar.
Kejadian terjadi di sebuah ruangan bekas kamar pengasuh saat jam istirahat. Menurutnya, bensin itu awalnya dibeli atas perintah salah seorang santri yang disinyalir sebagai pelaku. Bensin akan digunakan untuk meluruskan kayu ketapel dengan cara dibakar.
“Tidak ada penyiraman bensin. Tidak ada penyiraman,” tegas Muzakki kepada NTBSatu, Rabu, 3 Juni 2026.
Ia menjelaskan, saat kejadian terdapat lima santri berada di dalam ruangan. Sebagian bensin kemudian dituangkan ke atas lembaran mika dan dibakar. Namun, botol bensin yang berada di dekat api tersenggol hingga memicu kobaran api yang cepat membesar.
Akibatnya, tiga santri mengalami luka bakar. Sementara dua santri lainnya berhasil keluar dari ruangan.
Muzakki mengatakan, para korban sempat menjalani perawatan medis di Puskesmas Aik Dareq. Namun pihak keluarga akhirnya bersepakat merujuk korban ke fasilitas kesehatan di Praya.
“Begitu saya keluar karena mencium bau menyengat, wali santri langsung membawa korban dan teman-temannya keluar. Setelah itu langsung kami bawa ke puskesmas,” ujarnya. (*)




