Di Balik Ramainya Jalur Mataram-Lombok Timur, Nasi Bungkus Daun Tetap Jadi Buruan Pelintas
Lombok Tengah (NTBSatu) – Deru truk, bus antarkota, hingga sepeda motor nyaris tak pernah berhenti melintasi jalan utama Mataram-Lombok Timur di Desa Boak, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah. Di tengah hingar bingar kendaraan yang saling bersahutan, deretan warung nasi bungkus berjajar di tepi jalan.
Pemandangan itu sudah lama menjadi penanda bagi para pengguna jalan yang melintas menuju Lombok Timur maupun sebaliknya.
Namun, bukan sekadar deretan warung yang mencuri perhatian. Aroma nasi hangat yang terbungkus daun pisang justru lebih dulu menyapa setiap orang yang berhenti.
Wangi khas daun yang berpadu dengan lauk sederhana membuat nasi bungkus di kawasan ini memiliki daya tarik tersendiri. Tak sedikit sopir truk, pengemudi mobil barang, hingga pelancong sengaja menepi hanya untuk membawa pulang beberapa bungkus sebagai bekal perjalanan.
Di antara warung-warung tersebut, Sulfiyani masih mempertahankan cara lama yang mulai jarang ditemui. Ia tetap membungkus nasi menggunakan daun, bukan kertas pembungkus.
Baginya, daun bukan sekadar pembungkus, tetapi bagian dari cita rasa yang membuat pelanggan terus kembali.
“Kalau pakai daun, nasinya lebih harum. Semakin lama juga tidak cepat kering dan lebih awet. Banyak yang bawa sampai perjalanan ke Sumbawa, besoknya masih bagus dimakan,” kata Sulfiyani kepada NTBSatu.
Setiap hari, selepas subuh, dapur mulai sibuk menyiapkan lauk pendamping nasi. Menjelang pukul 06.30 Wita, puluhan bungkus nasi sudah tertata di atas nampan.
Aktivitas itu berlangsung hingga sore hari mengikuti arus kendaraan yang silih berganti melintas di jalur tersebut.
Satu bungkus nasi berisi daging cincang, ayam suwir, kacang kedelai, serundeng kelapa, mi bercampur kacang panjang, serta sambal racikan sendiri. Menu itu tidak banyak berubah selama bertahun-tahun. Justru kesederhanaan itulah yang menjadi ciri khas.
Sajikan Sambal dengan Karakter Berbeda
Sambalnya pun memiliki karakter berbeda. Sulfiyani memakai cabai kering yang dicampur sedikit cabai segar, lalu memasaknya dalam waktu lama hingga minyak keluar seluruhnya. Cara itu membuat sambal lebih awet tanpa mengurangi cita rasanya.
“Kalau minyaknya belum keluar berarti sambalnya belum matang. Itu yang bikin sambal lebih awet dan tidak cepat basi,” ujarnya.
Saat pembeli ramai, sambal biasanya habis dalam dua hingga tiga hari. Sebaliknya, ketika penjualan menurun, stok sambal dapat bertahan hingga empat atau lima hari.
Warung-warung nasi bungkus di sepanjang jalur ini juga tumbuh bersama aktivitas masyarakat sekitar. Sebagian besar bahan pangan berasal dari pedagang lokal, mulai dari sayuran, ayam, hingga bumbu dapur.
Rantai usaha sederhana itu ikut menggerakkan ekonomi warga di sekitar jalan utama.
Setiap hari Sulfiyani menyiapkan sekitar 100 bungkus nasi. Ketika arus kendaraan meningkat, jumlahnya bisa mencapai 150 bungkus.
Meski harga beras dan bahan pokok terus naik, harga jual tetap dijaga agar tetap terjangkau, berkisar Rp7 ribu hingga Rp8 ribu per bungkus.
“Saya mulai jual dari harga Rp5 ribu sampai sekarang udah Rp7 ribu atau Rp8 ribu,” ujarnya
Bagi banyak orang, nasi bungkus daun di Desa Boak mungkin hanya persinggahan singkat sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Namun, di balik bungkus sederhana itu, tersimpan cara lama yang masih bertahan.
Menjaga aroma, menjaga rasa, sekaligus menjaga kenangan bagi siapa pun yang pernah singgah saat melewati jalur utama Mataram-Lombok Timur. (*)




